<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lehmann</title>
	<atom:link href="http://lehmannsblog.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lehmannsblog.com</link>
	<description>SERBA-SERBI BISNIS INTERNET</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Aug 2010 03:36:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>ANDA BERJIWA PEGAWAI ATAU BERJIWA INVESTOR?</title>
		<link>http://lehmannsblog.com/2010/08/anda-berjiwa-pegawai-atau-berjiwa-investor/</link>
		<comments>http://lehmannsblog.com/2010/08/anda-berjiwa-pegawai-atau-berjiwa-investor/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 08:09:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lehmann</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[business-owner]]></category>
		<category><![CDATA[cashflow]]></category>
		<category><![CDATA[employee]]></category>
		<category><![CDATA[enterpreneur]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[mind-set]]></category>
		<category><![CDATA[pegawai]]></category>
		<category><![CDATA[pekerja bebas]]></category>
		<category><![CDATA[pekerja lepas]]></category>
		<category><![CDATA[pekerja mandiri]]></category>
		<category><![CDATA[pemilik bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[penanam modal]]></category>
		<category><![CDATA[pola pikir]]></category>
		<category><![CDATA[qudrant]]></category>
		<category><![CDATA[self-employed]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lehmannsblog.com/?p=374</guid>
		<description><![CDATA[Saya yakin Anda pernah mendengar nama Robert T. Kyosaki, warganegara Amerika keturunan Jepang, tinggal di Hawaii. Ia adalah seorang motivator bisnis yang menulis buku The Cashflow Quadrant, &#8211; Kwadran Aliran Uang. Ia bukan hanya sekedar motivator bisnis, melainkan juga motivator &#8220;kebebasan finasial&#8221; melalui bukunya yang tersohor Rich Dad, Poor Dad, &#8211; Ayah Kaya, Ayah Miskin. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya yakin Anda pernah mendengar nama Robert T. Kyosaki, warganegara Amerika keturunan Jepang, tinggal di Hawaii. Ia adalah seorang motivator bisnis yang menulis buku <em>The Cashflow Quadrant</em>, &#8211; Kwadran Aliran Uang. Ia bukan hanya sekedar motivator bisnis, melainkan juga motivator &#8220;kebebasan finasial&#8221; melalui bukunya yang tersohor <em>Rich Dad, Poor Dad</em>, &#8211; Ayah Kaya, Ayah Miskin.<br />
Ia mengatakan bahwa atas dasar motivasinya untuk mencari nafkah, seseorang dapat dikelompokkan ke dalam salah satu atau mungkin dua kwadran sekaligus, yang masing-masing disebutnya sebagai kelompok pegawai, kelompok pekerja bebas, kelompok pemilik bisnis dan kelompok penanam modal.<br />
Kwadran itu sendiri, sebagaimana Anda pelajari di sekolah, adalah seperempat bagian dari sebuah bidang (bulat, persegi atau lonjong tidak masalah).</p>
<div id="attachment_376" class="wp-caption alignleft" style="width: 219px"><a href="http://lehmannsblog.com/wp-content/uploads/2010/08/Cashflow-Quadrant.jpg"><img class="size-full wp-image-376" title="Cashflow Quadrant" src="http://lehmannsblog.com/wp-content/uploads/2010/08/Cashflow-Quadrant.jpg" alt="" width="209" height="209" /></a><p class="wp-caption-text">Cashflow Quadrant</p></div>
<p>Masing-masing kwadran menunjukkan tempat masing-masing kelompok orang dengan diberi notasi E (<em>Employee</em>) bagi kelompok pegawai, S (<em>Self-employed</em>) untuk kelompok pekerja bebas atau pekerja lepas, &#8211; saya lebih suka dengan sebutan &#8220;pekerja mandiri&#8221; -, B (<em>Business Owner</em>) untuk kelompok pemilik bisnis dan I (<em>Investor</em>) bagi kelompok penanam modal, &#8211; lihat ilustrasi. Robert T. Kyosaki membedakan antara kwadran yang berada di sisi kiri dengan yang di sisi kanan. Kelompok kwadran sisi kiri, &#8211; E dan S -, dinilainya sebagai kelompok yang <span id="more-374"></span>lebih mengandalkan pada nafkah yang aman, reguler serta yang menjamin penghasilan secara teratur dan pasti serta tanpa risiko. Kelompok di sisi kiri ini seringkali disebut sebagai &#8220;<em>safety player</em>&#8220;. Sementara kelompok di sisi kanan pada umumnya &#8220;berani&#8221; mengambil risiko dalam menghadapi &#8220;peluang&#8221; yang dijumpainya, sehingga kelompok ini lazim disebut sebagai &#8220;<em>risk taker</em>&#8220;.<br />
Pola pikir (<em>mind set</em>) kelompok kwadran sisi kiri, &#8220;Menanam modal itu berisiko&#8221;. Sementara pola pikir kelompok kwadran sisi kanan, &#8220;Tidak ada bidang usaha atau pekerjaan tanpa risiko&#8221;. Mereka menilai bahwa pegawai pun menghadapi risiko &#8220;dipecat&#8221; dari pekerjaannya, jika pekerjaan atau ethos kerjanya dinilai &#8220;tidak memuaskan&#8221;.<br />
Lebih lanjut, Robert T. Kyosaki menjelaskan bahwa jika Anda berada di kwadran sisi kiri, &#8211; E dan S -, dan ingin memiliki &#8220;kebebasan finansial&#8221;, maka Anda harus bersedia, belajar, berlatih dan berupaya untuk &#8220;menjadi&#8221; orang yang berada di kwadran sisi kanan, &#8211; B dan I -. Konsekuansinya, Anda harus &#8220;mengubah&#8221; pola pikir Anda, yaitu dari pola pikir kwadran sisi kiri (<em>safety player</em>) menjadi pola pikir kwadran sisi kanan (<em>risk taker</em>).<br />
Bagaimana ia membedakan masing-masing kelompok itu satu dengan lainnya antara E, S, B dan I?</p>
<ul>
<li><strong>E (<em>Employee</em>).</strong> Seorang yang berjiwa pegawai selalu akan berupaya agar tetap bekerja (jadi pegawai), karena dinilainya bahwa dengan bekerja ia akan mendapat jaminan penghasilan yang tetap dan pasti, bahkan mungkin ia berharap mendapat &#8220;tunjangan&#8221; lainnya, seperti tunjangan  kesehatan dan hari tua. Kata &#8220;risiko&#8221; akan menimbulkan ketakutan baginya. Rasa aman mambuatnya bahagia. Bagi mereka rasa aman bahkan lebih penting daripada uang. Bukan hal aneh jika mereka mengatakan : &#8220;Aku tidak tertarik pada uang&#8221;.</li>
<li><strong>S (<em>Self-employed</em>).</strong> Mereka ingin menjadi bos mereka sendiri. Sangat independen dalam hal keuangan. Tidak suka jika besarnya penghasilan ditentukan orang lain. Mereka menilai bahwa kerja keras atau keahlian mereka patut dibayar tinggi. Karena itu mereka sadar bahwa tanpa kerja keras dengan sebaik-baiknya, mereka tidak patut dibayar tinggi. Berbeda dengan seorang pegawai, pekerja bebas senantiasa akan berupaya agar &#8220;hasil kerja&#8221;-nya adalah yang terbaik. Bahkan acapkali ia menganggap orang lain tidak se-&#8221;hebat&#8221; dia, karena mereka pada umumnya berjiwa &#8220;perfeksionis&#8221;. Akibatnya, mereka tidak suka mendelegasikan pekerjaannya kepada orang lain, karena dianggapnya tidak ada orang lain yang bisa mengerjakan sesuai dengan kriteria yang ditentukannya. Bagi mereka, uang tidaklah penting, kemandirian dan &#8220;pengakuan&#8221; atas kelebihan mereka dinilai lebih penting daripada uang. Banyak di antara mereka merupakan pekerja &#8220;profesional&#8221; yang berpendidikan tinggi atau lebih tinggi dari rata-rata, seperti dokter, arsitek, akuntan, pengacara, konsultan, namun tidak jarang mereka merupakan pemilik toko eceran (warung), montir, artis dan sejenisnya yang lebih suka &#8220;mandiri&#8221; ketimbang jadi pegawai orang lain. Di Indonesia, banyak di antara artis, &#8211; selaku seorang pekerja bebas (S) -, mengubah dirinya dan berhasil -, menjadi seorang pemilik usaha (B).</li>
<li><strong>B (<em>Business-owner</em>).</strong> Kelompok B berlawanan dengan kelompok S, dalam hal menangani pekerjaan. Kelompok ini lebih suka &#8220;menggunakan&#8221; orang-orang cerdik pandai, &#8211; yang berasal dari keempat kelompok, baik E, S, B, maupun I -, untuk mengerjakan pekerjaannya dengan hasil &#8220;lebih baik&#8221;. Moto kebanyakan dari kelompok ini adalah &#8220;Mengapa saya harus mengerjakan sendiri kalau bisa &#8220;menyewa&#8221; orang lain yang mampu mengerjakannya dengan lebih baik?&#8221;. Pada umumnya seseorang dari kelompok B banyak dikelilingi tenaga kerja ahli untuk masing-masing bidang yang berbeda. Sedangkan dia sendiri lebih suka mengerjakan tugas yang menurutnya &#8220;lebih penting&#8221;, seperti &#8220;berfikir&#8221;, &#8211; tent saja  &#8230; demi kemajuan usahanya.</li>
<li><strong>I (<em>Investor</em>).</strong> Bagi seseorang yang berada di kwadran ini, kata &#8220;risiko&#8221; sangat mungkin menimbulkan &#8220;semangat&#8221; baginya. Ia akan selalu ingat slogan yang menyatakan &#8220;<em>high risk, high income</em>&#8220;. Mata fisik dan mata hatinya senantiasa akan mencari dan menemukan &#8220;peluang investasi&#8221; yang menguntungkannya. Sebagai contoh: Tatkala gelombang krismon melanda Indonesia, dan melihat gejala &#8220;suku bunga yang meningkat pesat&#8221;, ia menginvestasikan uangnya dalam &#8220;deposito&#8221;, tatkala suku bunga menunjukkan gejala menurun, dia hentikan investasi dalam deposito. Selain itu, ia melihat gejala kurs dollar yang meningkat pesat sebagai peluang investasi dalam valuta. Selaku seorang investor, jika dia ingin kaya, dia akan berbuat agar uangnya bekerja untuk dirinya, bukan dia yang bekerja untuk uang.</li>
</ul>
<p>Bagi Anda yang belum termasuk kelompok kwardan sisi kanan, jangan dulu berkecil hati. Memang, untuk mengubah &#8220;pola pikir&#8221; (<em>mind set</em>) kwardan sisi kiri menjadi pola pikir sisi kanan tidak dapat berlangsung secara instan, seperti halnya Anda menginstal program applikasi komputer Anda. Atau secara populer, seperti membalikkan telapak tangan Anda.<br />
Tentu saja Anda memerlukan waktu untuk mengubah pola pikir Anda, terutama mengingat kondisi lingkungan masyarakat kita (di Indonesia) yang belum mendukung pembentukan pola pikir wirausaha. Sejak lahir, Anda terdidik dalam lingkungan yang membentuk pola pikir Anda untuk tidak berani mengambil risiko (<em>risk taking</em>). Berbeda dengan masyarakat Tionghoa, &#8211; di mana pun mereka berada -, lingkungan keluarganya pun sudah bernuansa wirausaha. Tidak usah heran jika mereka banyak yang berhasil dalam bisnis dan keuangan mereka.<br />
Meskipun demikian, tak usah Anda jadikan hal ini sebagai <em>excuse</em> atau alasan untuk tidak mengubah pola pikir Anda, &#8230; jika Anda ingin berhasil. Semangat dan tekad untuk berhasil perlu Anda pertahankan, jika &#8230; memang, Anda ingin berhasil dalam hal bisnis atau keuangan Anda. Nah &#8230;, DI KWADRAN MANA POSISI ANDA?<br />
Di posisi mana pun Anda berada, untuk berwirausaha Anda perlu membekali diri dengan mentalitas dan pola pikir seorang wirausahawan (<em>enterpreneur</em>).</p>
<p>Salam SUKSES. Semoga berhasil.</p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://www.onlywire.com/button" title="ANDA BERJIWA PEGAWAI ATAU BERJIWA INVESTOR?" url="http://lehmannsblog.com/?p=374"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lehmannsblog.com/2010/08/anda-berjiwa-pegawai-atau-berjiwa-investor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEBERAPA BESAR HASIL UPAYA ANDA MENUJU SUKSES?</title>
		<link>http://lehmannsblog.com/2010/07/seberapa-besar-hasil-upaya-anda-menuju-sukses/</link>
		<comments>http://lehmannsblog.com/2010/07/seberapa-besar-hasil-upaya-anda-menuju-sukses/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 14:15:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lehmann</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[kerja keras]]></category>
		<category><![CDATA[latihan]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[peran Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[perilaku]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lehmannsblog.com/?p=364</guid>
		<description><![CDATA[Dalam upaya mencapai sukes di bidang apapun, Anda dihadapkan pada beberapa persyaratan (conditions). Acapkali persyaratan itu sekilas terlihat &#8220;mudah&#8221;, tapi dalam kenyataannya tidak semudah tampaknya. Pernahkah Anda terfikir untuk mengukur atau mengkaji hasil upaya Anda untuk mencapai SUKSES? Anda pasti sering mendengar atau membaca bahwa salah satu persyaratan itu adalah KERJA-KERAS (Hard Work), di samping [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam upaya mencapai sukes di bidang apapun, Anda dihadapkan pada beberapa persyaratan (conditions). Acapkali persyaratan itu sekilas terlihat &#8220;mudah&#8221;, tapi dalam kenyataannya tidak semudah tampaknya. Pernahkah Anda terfikir untuk mengukur atau mengkaji hasil upaya Anda untuk mencapai SUKSES? Anda pasti sering mendengar atau membaca bahwa salah satu persyaratan itu adalah KERJA-KERAS (<em>Hard Work</em>), di samping PENGETAHUAN <em>(Knowledge</em>) dan PERILAKU (<em>Attitude</em>). Hal itu Anda kenal juga dalam dunia pendidikan yang pada dasarnya bertujuan mencetak tenaga kerja yang &#8220;terlatih&#8221;, &#8220;berpengetahuan lebih luas&#8221; dan &#8220;perilaku&#8221;-nya berubah yang menjadikannya &#8220;tenaga kerja profesional&#8221;.<br />
Tapi bagaimana Anda mengukur HASIL kerja-keras Anda dan PERAN pengetahuan dan perilaku Anda dalam hubungan dengan upaya mencapai SUKSES tersebut?<br />
Dalam salah satu <a href="http://lehmannsblog.com/2009/08/antara-impian-motivasi-upaya-dan-sukses">artikel terdahulu,</a> untuk mencapai sukses memerlukan kerja-keras tanpa henti, dan dalam <a href="http://lehmannsblog.com/2009/01/perlunya-membedakan-copywriting-dengan-copywriting">artikel lainnya,</a> cita-cita Anda untuk sukses menjadi &#8220;pelaku terbaik&#8221; <span id="more-364"></span>(best performer), bisa juga dicapai melalui latihan, &#8230; latihan, &#8230; dan &#8230; latihan. Latihan pun tidak serta merta mengubah Anda menjadi orang sukses, melainkan masih tergantung pada perubahan perilaku Anda untuk menjadi orang sukses.<br />
Sukses itu sendiri sangat <a href="http://lehmannsblog.com/2010/03/memilih-topik-blog-anda">subjektif penilaiannya</a>, tergantung pada masing-masing individu Anda. Walau begitu, ada satu hal yang bisa Anda pegang sebagai &#8220;pedoman&#8221;, yaitu SUKSES itu adalah suatu hasil yang memberikan kebahagiaan dan kepuasan &#8220;sesuai harapan Anda&#8221;, yang sangat bersifat kualitatif, sehingga sukar untuk dinilai secara kuantitatif.<br />
Karena penilaian sukses itu bersifat subjektif, maka ukuran hasil kerja-keras pun jadi subjektif, begitu pun halnya dengan penilaian atas peran pengetahuan dan perilaku Anda dalam mencapai sukses itu. Jangan khawatir, ada satu petunjuk kuantitatif, yang minimal dapat Anda jadikan pegangan, &#8230; sekedar pegangan, mengingat petunjuk ini terlihat bagaikan sekedar &#8220;permainan angka&#8221;. Jadi &#8230;, boleh percaya, boleh tidak.</p>
<p><a href="http://lehmannsblog.com/wp-content/uploads/2010/07/TheBeautyOfMathematics.pdf"><img class="alignleft size-full wp-image-365" title="The Beauty of Mathematics and the Love of God" src="http://lehmannsblog.com/wp-content/uploads/2010/07/theBeautyofMath-e-cover.png" alt="" width="244" height="268" /></a>Anda dapat melihatnya dari tulisan terlampir dalam format pdf (e-book) yang aslinya diperoleh dalam bentuk email dari maillist-group di mana saya menjadi anggota.<br />
Tulisan itu aslinya berjudul <a href="http://lehmannsblog.com/wp-content/uploads/2010/07/TheBeautyOfMathematics.pdf">The Beauty Of Mathematics and the Love Of God</a>. Silahkan lihat dulu &#8230; Nah &#8230;, Selamat Menikmati. Jadi &#8230;, Di samping KERJA KERAS, PENGETAHUAN dan PERILAKU, &#8230; ada PERAN KASIH SAYANG TUHAN dalam pencapaian Sukses Anda. Kesimpulan Anda?</p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://www.onlywire.com/button" title="SEBERAPA BESAR HASIL UPAYA ANDA MENUJU SUKSES?" url="http://lehmannsblog.com/?p=364"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lehmannsblog.com/2010/07/seberapa-besar-hasil-upaya-anda-menuju-sukses/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KEBERHASILAN ANDA TIDAK TERGANTUNG PADA NASIB ANDA</title>
		<link>http://lehmannsblog.com/2010/04/keberhasilan-anda-tidak-tergantung-pada-nasib-anda/</link>
		<comments>http://lehmannsblog.com/2010/04/keberhasilan-anda-tidak-tergantung-pada-nasib-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 09:32:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lehmann</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[berjuang]]></category>
		<category><![CDATA[berusaha]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis internet]]></category>
		<category><![CDATA[kerja keras]]></category>
		<category><![CDATA[nasib]]></category>
		<category><![CDATA[nasib dan usaha]]></category>
		<category><![CDATA[sungguh-sungguh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lehmannsblog.com/?p=351</guid>
		<description><![CDATA[Ya! &#8230; Keberhasilan Anda Tidak Tergantung hanya pada Nasib Anda, &#8230; melainkan juga pada Usaha Anda. Suatu saat saya membaca email dari teman maillist yang mengisahkan keberhasilan seorang pengusaha di bawah judul: &#8220;Nasib dan Usaha&#8221; Saya berfikir, ada baiknya kisah itu disebarkan kepada teman-teman lainnya, mengingat isinya yang mengandung &#8220;pelajaran&#8221; yang sangat berharga. Adapun kisahnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya! &#8230; <strong>Keberhasilan</strong> Anda Tidak Tergantung <strong>hanya</strong> pada <strong>Nasib</strong> Anda, &#8230; melainkan <strong>juga</strong> pada <strong>Usaha</strong> Anda.</p>
<p>Suatu saat saya membaca email dari teman maillist yang mengisahkan keberhasilan seorang pengusaha di bawah judul: &#8220;<strong>Nasib dan Usaha</strong>&#8221;</p>
<p>Saya berfikir, ada baiknya kisah itu disebarkan kepada teman-teman lainnya, mengingat isinya yang mengandung &#8220;pelajaran&#8221; yang sangat berharga. Adapun kisahnya seperti di bawah ini.</p>
<p><strong>NASIB DAN USAHA</strong> (Seperti dikisahkan oleh Beben)</p>
<p>Kisah seorang konglomerat dan pengusaha kaya dan menurut banyak pihak, kekayaan itu diperoleh benar2 dari nol. Karena itu, apa yg dilakukannya mampu menginspirasi banyak orang.</p>
<p>Suatu ketika, ada seorang pemuda ingin belajar, menimba pengalaman dari sang pengusaha tersebut. Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya sang pemuda berhasil menemui si pengusaha sukses.</p>
<p>&#8220;Terimakasih Bapak mau menerima saya. Terus terang saya sangat ingin <span id="more-351"></span>menimba pengalaman dari Bapak sehingga bisa sukses seperti Bapak,&#8221; ujar pemuda itu.</p>
<p>Mendengar permintaan itu, sang pengusaha tersenyum sejenak. Kemudian, ia pun meminta anak muda tadi menengadahkan tangannya. Si pemuda pun terheran-heran, lalu si pengusahapun menjelaskan maksudnya.<br />
&#8220;Biar aku lihat garis tanganmu dan, simaklah baik-baik apa pendapatku tentangmu sebelum aku memberikan pelajaran seperti yg kamu minta,&#8221; jawab pengusaha tersebut.<br />
Setelah pemuda itu menengadahkan kedua tangannya, si pengusaha pun berkata, &#8220;Lihatlah telapak tanganmu ini. Disini ada beberapa garis utama yang menentukan nasib. Di sana ada garis kehidupan. Kemudian, disini ada garis rezeki dan ada pula garis jodoh.</p>
<p>&#8220;Sekarang, menggenggamlah. Di mana semua garis tadi?&#8221;<br />
&#8220;Di dalam telapak tangan yg saya genggam.&#8221; Jawab si pemuda yg penasaran.<br />
&#8220;Nah, apa artinya itu? Hal itu mengandung arti, bahwa apapun takdir dan keadaanmu kelak, semua itu ada dalam genggamanmu sendiri. Kamu lihat bukan? Bahwa semua garis tadi ada di tanganmu.</p>
<p>&#8220;Dan, begitulah rahasia suksesku selama ini. Aku <strong>berjuang</strong> dan <strong>berusaha</strong> dengan berbagai cara untuk menentukan nasibku sendiri,&#8221; terang si pengusaha.<br />
&#8220;Tetapi coba lihat pula genggamanmu. Bukankah masih ada garis yang tidak ikut tergenggam? Sisa garis itulah yang berada di luar kendalimu. Karena &#8230; di sanalah letak kekuatan Sang Maha Pencipta yang tidak akan mampu kita lakukan , &#8211; <strong>nasib</strong> -,an itulah bagianNya Tuhan.</p>
<p><strong>Genggam dan lakukan bagianmu dengan <a href="http://www.jokosusilo.com/2008/01/25/affiliate-program-kunci-sukses-bisnis-internet">kerja keras dan sungguh-sungguh</a></strong>, <strong>dan bawalah kepada Tuhan bagian yang tidak mampu engkau lakukan..!</strong></p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://www.onlywire.com/button" title="KEBERHASILAN ANDA TIDAK TERGANTUNG PADA NASIB ANDA" url="http://lehmannsblog.com/?p=351"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lehmannsblog.com/2010/04/keberhasilan-anda-tidak-tergantung-pada-nasib-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TINGGINYA ARUS PENGUNJUNG WEB ANDA, BELUM TENTU BAGUS BUAT BISNIS ANDA</title>
		<link>http://lehmannsblog.com/2010/04/tingginya-arus-pengunjung-web-anda-belum-tentu-bagus-buat-bisnis-anda/</link>
		<comments>http://lehmannsblog.com/2010/04/tingginya-arus-pengunjung-web-anda-belum-tentu-bagus-buat-bisnis-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Apr 2010 08:02:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lehmann</dc:creator>
				<category><![CDATA[Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Advertising]]></category>
		<category><![CDATA[copywriting]]></category>
		<category><![CDATA[cost-benefit analysis]]></category>
		<category><![CDATA[cost-revenue analysis]]></category>
		<category><![CDATA[iklan]]></category>
		<category><![CDATA[input-output analysis]]></category>
		<category><![CDATA[marketing mix]]></category>
		<category><![CDATA[placement]]></category>
		<category><![CDATA[sales unit-cost]]></category>
		<category><![CDATA[target market]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lehmannsblog.com/?p=347</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin anda bertanya: &#8220;Lho, kok begitu?&#8221; Memang judul artikel ini agak janggal, di satu sisi Anda selaku pemilik situs web atau blog pasti mengharapkan banyak arus pengunjung ke web Anda, di sisi lain, untuk mendapatkan banyak pengunjung, Anda perlu melakukan iklan (advertising) yang harus Anda biayai. Pernahkan terlintas dalam pikiran anda, jika pengunjung itu merupakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin anda bertanya: &#8220;Lho, kok begitu?&#8221; Memang judul artikel ini agak janggal, di satu sisi Anda selaku pemilik situs web atau blog pasti mengharapkan banyak arus pengunjung ke web Anda, di sisi lain, untuk mendapatkan banyak pengunjung, Anda perlu melakukan iklan (advertising) yang harus Anda biayai.</p>
<p>Pernahkan terlintas dalam pikiran anda, jika pengunjung itu merupakan &#8220;hasil&#8221; iklan berbayar, misalnya PPC (Pay Per Click), maka berarti Anda harus membayar sesuai dengan jumlah klik yang diterima situs Anda. Nah, pada saat itulah Anda harus &#8220;berhitung&#8221; untuk menilai tentang <span id="more-347"></span>perbandingan antara &#8220;biaya&#8221;, &#8211; yang Anda keluarkan untuk iklan -, dengan &#8220;manfaat&#8221; yang Anda peroleh. Dalam hubungan ini, manfaat jangan hanya diukur dari jumlah pengunjung web semata, melainkan juga harus diukur dari &#8220;pendapatan&#8221;, &#8211; keuntungan yang Anda terima dari penjualan.</p>
<p>Penilaian itu dikenal sebagai &#8220;<em>cost-benefit analysis</em>&#8221; (analisis biaya-manfaat) atau &#8220;<em>cost-revenue analysis</em>&#8221; (analisis biaya-pendapatan), atau seringkali disebut juga sebagai &#8220;<em>input-output analysis</em>&#8221; (analisis pasokan-keluaran). Simaklah contoh di bawah ini.</p>
<ol>
<li>Jika iklan yang Anda pasang, mendapat 100 klik @ Rp.500.- , maka Anda harus membayar Rp.50,000. Sekarang nilailah. Dengan biaya tersebut, apakah Anda berhasil melakukan penjualan produk Anda, berapa yang berhasil Anda jual? Jika Anda hanya berhasil menjual satu unit produk @ Rp.100,000 dengan keuntungan Rp.50,000 masih lumayan, Anda berhasil &#8220;menutup&#8221; biaya marketing (iklan) Anda. Tapi kalau tidak, bagaimana? Mungkin tidak ada penjualan sama sekali.</li>
<li>Misalnya, jika iklan Anda mendapat 1000 klik, biayanya Rp.500,000, kan? Tapi jika hasil penjualan Anda, misalnya juga hanya satu unit, berarti Anda mengalami &#8220;defisit&#8221; (pengeluaran lebih besar dari pendapatan) sejumlah Rp.450,000. Dengan demikian biaya penjualan per unit (unit sales-cost) jadi jauh lebih besar (yaitu Rp.500,000/unit dari 1000 pengunjung dibanding Rp.50,000/unit dari 100 pengunjung).</li>
</ol>
<p>Dilihat dari kemungkinan itulah, artikel ini saya beri judul seperti di atas, jumlah pengunjung yang lebih besar tidak selalu menghasilkan penjualan yang lebih besar. Walau demikian, harus diakui bahwa &#8220;kemungkinan&#8221; penjualannya memang lebih besar. Lantas, bagaimana mengatasi masalahnya?<br />
Masalahnya terletak pada &#8230; :</p>
<ul>
<li>bagaimana isi iklan Anda (copywriting);</li>
<li>kapan dan berapa lama Anda pasang (timing);</li>
<li>di mana Anda pasang (placement);</li>
<li>komposisi unsur pemasaran (marketing mix); dan</li>
<li>siapa sasaran iklan Anda (target market);</li>
<li>dsb. &#8230; dsb.</li>
</ul>
<p>Namun demikian, Anda jangan menjadi KECUT, takut untuk beriklan setelah membaca artikel ini, tapi justru sebaliknya &#8230;  dengan mengetahui kemungkinan tersebut di atas, pemasaran Anda harus direncanakan dengan seksama, penuh perhitungan. Jangan sampai pemasangan iklan Anda, malah membuat Anda frustasi di kemudian hari, karena sudah mengeluarkan biaya iklan begitu banyak, tapi penjualannya tidak mencukupi biaya iklannya.</p>
<p>Ada lagi hal yang perlu Anda catat agar Anda tidak frustasi, yaitu bahwa pemasangan iklan yang Anda lakukan pada suatu hari &#8230; tidak serta merta menghasilkan penjualan hari itu juga, atau &#8230; keesokan harinya. Kalau pun hal itu terjadi &#8230; adalah keberuntungan bisnis Anda, yang mencerminkan keberhasilan strategi iklan Anda.</p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://www.onlywire.com/button" title="TINGGINYA ARUS PENGUNJUNG WEB ANDA, BELUM TENTU BAGUS BUAT BISNIS ANDA" url="http://lehmannsblog.com/?p=347"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lehmannsblog.com/2010/04/tingginya-arus-pengunjung-web-anda-belum-tentu-bagus-buat-bisnis-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MEMILIH TOPIK BLOG ANDA</title>
		<link>http://lehmannsblog.com/2010/03/memilih-topik-blog-anda/</link>
		<comments>http://lehmannsblog.com/2010/03/memilih-topik-blog-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Mar 2010 15:37:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lehmann</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[copywriting]]></category>
		<category><![CDATA[formulabisnis]]></category>
		<category><![CDATA[jokosusilo]]></category>
		<category><![CDATA[keberhasilan]]></category>
		<category><![CDATA[pembaca]]></category>
		<category><![CDATA[pengunjung]]></category>
		<category><![CDATA[penjualan]]></category>
		<category><![CDATA[smuo]]></category>
		<category><![CDATA[topik blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lehmannsblog.com/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[Pilihlah Topik Blog Anda Agar Berhasil. Keberhasilan blog Anda merupakan hasil jerih payah serta pengorbanan atas waktu dan upaya Anda. Apa tolok ukur keberhasilan bagi Anda? Tiap orang mempunyai tolok ukur yang berbeda mengenai keberhasilan, tergantung pada &#8220;Apa yang menjadi harapan Anda pada saat memulai kegiatan blogging&#8221;, bahkan sebelumnya lagi. Minimal pemilik blog mengharapkan blognya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pilihlah Topik Blog Anda Agar Berhasil.</strong></p>
<p>Keberhasilan blog Anda merupakan hasil jerih payah serta pengorbanan atas waktu dan upaya Anda.<br />
<em>Apa tolok ukur keberhasilan bagi Anda?</em><br />
Tiap orang mempunyai tolok ukur yang berbeda mengenai keberhasilan, tergantung pada &#8220;Apa yang menjadi harapan Anda pada saat memulai kegiatan blogging&#8221;, bahkan sebelumnya lagi. Minimal pemilik blog mengharapkan blognya banyak pengunjung dan pembacanya, dan tentu saja jika blog itu berkaitan dengan bisnis, maka <a href="http://lehmannsblog.com/2009/01/tujuan-copywriting-adalah-meningkatkan-penjualan">&#8220;penjualan&#8221;</a> juga bisa menjadi tolok ukur keberhasilan blog Anda.<br />
Agar blog Anda berhasil ada beberapa tip yang dapat Anda ikuti dalam memilih topik yang akan Anda sampaikan dalam blog yang Anda harapkan akan membawa Anda ke jalur menuju tercapainya tujuan blogging Anda.</p>
<ol>
<li><strong>Topik yang Anda pilih harus menyangkut hal yang Anda sukai.</strong><br />
Jika Anda menyukai suatu topik, sudah pasti Anda akan senang hati meng-update blog Anda setiap saat. Blog yang di-update beberapa kali dalam sehari akan dengan mudah mencapai sukses. Jika blog Anda berada dalam jalur sukses, Anda perlu memelihara isi blog Anda selalu &#8220;baru&#8221; yang berarti Anda perlu meng-update blog Anda secara konsisten. Anda dapat melihat blog jokosusilo yang selalu menampilkan topik-topik baru dalam tempo yang singkat, kadang sehari dijumpai dua topik baru, paling sedikit tiap dua hari ada topik baru. Yakinkan diri Anda bahwa topik yang Anda pilih merupakan <span id="more-340"></span>topik yang Anda rasakan sangat suka untuk menulisnya. Jika tidak, Anda akan merasa bosan dan tidak bersemangat menuliskannya. Tapi jangan lupa, &#8230; topik yang Anda sukai pun harus &#8220;disukai&#8221; pembacanya. Jadi pilihlah topik yang Anda rasakan akan Anda senangi untuk menulisnya serta disukai banyak orang &#8211; untuk jangka waktu yang lama, kalaupun tidak untuk selamanya.</li>
<li><strong>Pilihlah topik yang Anda suka untuk membahasnya dengan orang lain.</strong><br />
Dalam hubungan ini blog yang sukses mempersyaratkan adanya komunikasi dua-arah, yaitu antara Anda (selaku blogger) dengan para pembaca blog Anda. Jika pembaca blog Anda memberi komentar atas blog Anda atau mengirim email untuk membahasnya lebih lanjut, Anda harus bersikap responsif dan menyambut mereka. Lagi-lagi, ingin saya mengacu pada blognya jokosusilo, yang berhasil &#8220;menarik&#8221; ratusan ribu penggemar dari komunitas blogger, bukan hanya anggota formulabisnis saja, melainkan yang bukan anggota pun ikut terlibat. Jadi ternyata, komunitas yang Anda ciptakan merupakan kunci ke jalan sukses blog Anda.</li>
<li><strong>Topik yang Anda pilih pun harus Anda rela untuk diperdebatkan dengan orang lain.</strong><br />
Jika blog Anda berkembang, maka semakin banyak orang yang mendatanginya. Anda harus ingat bahwa para pengunjung blog Anda terdiri dari berbagai kalangan dengan berbagai pendapat. Di antara mereka ada saja yang tidak setuju atas apa yang Anda tulis. Masih merupakan pengamatan saya atas blog jokosusilo, membuktikan bahwa diskusi tentang topik yang ditulisnya serta perdebatan yang &#8220;sehat&#8221; membawanya ke jenjang sukses.</li>
<li><strong>Janganlah memilih Topik tentang hal yang Anda sendiri merasa sensitif.</strong><br />
Ketika blog Anda semakin berkembang, dan semakin banyak pengunjungnya, tidak mustahil ada saja pengunjung yang bukan sekedar &#8220;tidak setuju&#8221; melainkan bersifat &#8220;menentang keras&#8221; sehingga boleh jadi Anda diserangnya secara pribadi. Saya teringat, suatu ketika blog jokosusilo tidak luput dari &#8220;cacian&#8221; dan pendapat negatif. Namun, Sang Guru tetap bersikap DINGIN dan mengatasinya dengan jawaban bijaksana yang tidak mempertajam suasana. Agaknya untuk bersikap seperti itu, Anda perlu memiliki hati yang dingin, otak yang jernih &#8230; dan &#8230; tebal kulit muka (rai gedek, Jawa).</li>
<li><strong>Topik Anda pun harus merupakan hal yang Anda rasakan suka untuk menelitinya.</strong><br />
Agar blog Anda mencapai sukses, Anda perlu meng-update diri dengan berita, peristiwa dan informasi yang mutakhir tentang topik yang Anda tulis. Dalam suasana dan situasi perkembangan teknologi informasi seperti sekarang ini, perubahan informasi demikian cepatnya, sehingga Anda perlu banyak membaca tentang berbagai topik yang menarik. Salah satu aspek yang unik dari blog adalah kemampuannya untuk menyajikan <strong>informasi yang segar</strong>, <strong>isi yang berguna</strong>, serta <strong>diskusi tentang berbagai topik</strong> yang bervariasi. Dengan demikian blog Anda akan mampu menyajikan informasi yang selalu baru dan relevan bagi pembaca Anda, seperti yang dilakukan juga oleh Guru Blogger Joko Susilo yang baru-baru ini menyajikan berbagai trik baru tentang &#8220;pemanfaatan&#8221; Facebook untuk jejaring Reseller.</li>
</ol>
<p>Informasi dan petunjuk yang senada seperti di atas, juga dapat Anda baca di blog <a href="http://www.jokosusilo.com">jokosusilo.com</a> serta dalam Buku-Elektronik (e-book) <strong>SMUO</strong> (Sistem  Mesin Uang Otomatis) yang bisa Anda peroleh jika Anda mendaftar sebagai anggota <a href="http://www.formulabisnis.com">Formulabisnis.com</a></p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://www.onlywire.com/button" title="MEMILIH TOPIK BLOG ANDA" url="http://lehmannsblog.com/?p=340"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lehmannsblog.com/2010/03/memilih-topik-blog-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PLUS MINUS BISNIS AFILIASI</title>
		<link>http://lehmannsblog.com/2010/01/plus-minus-bisnis-afiliasi/</link>
		<comments>http://lehmannsblog.com/2010/01/plus-minus-bisnis-afiliasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 14:17:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lehmann</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[affiliate merchant]]></category>
		<category><![CDATA[affiliate program]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis afiliasi]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis internet]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis online]]></category>
		<category><![CDATA[business affiliate]]></category>
		<category><![CDATA[formulabisnis]]></category>
		<category><![CDATA[jokosusilo]]></category>
		<category><![CDATA[online business]]></category>
		<category><![CDATA[reseller]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lehmannsblog.com/?p=331</guid>
		<description><![CDATA[Jika Anda sering menjelajahi internet dari satu situs ke situs lainnya, saya yakin anda acapkali melihat tawaran Affiliate Program bagi produk mereka. Bisnis (Online) yang dilakukan dengan Affiliate Program inilah yang saya maksud dengan Bisnis Afiliasi (Affiliate Business). Sebagaimana bisnis lainnya Produk Online pun memerlukan tenaga pemasaran. Dalam hal Affiliate Program, tenaga pemasaran terdiri dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika Anda sering menjelajahi internet dari satu situs ke situs lainnya, saya yakin anda acapkali melihat tawaran <em>Affiliate Program</em> bagi produk mereka. Bisnis (Online) yang dilakukan dengan <em>Affiliate Program</em> inilah yang saya maksud dengan Bisnis Afiliasi (<em>Affiliate Business</em>).<br />
<img class="alignleft size-full wp-image-335" title="Bisnis Affiliasi" src="http://lehmannsblog.com/wp-content/uploads/2010/01/Reseller_2.jpg" alt="" width="150" height="125" />Sebagaimana bisnis lainnya Produk <em>Online</em> pun memerlukan tenaga pemasaran. Dalam hal <em>Affiliate Program</em>, tenaga pemasaran terdiri dari orang-orang yang bertindak sebagai <em>Business Affiliates</em> atau <em>Affiliate Merchant</em>. Intinya, <em>Affiliate Merchant</em> merupakan perangkat pemasaran dengan status partner, disebut juga sebagai <em>Reseller</em>.<br />
Bisnis Afiliasi memiliki nilai plus maupun nilai minus seperti halnya juga dengan bentuk bisnis lainnya.</p>
<p><strong>NILAI PLUS.</strong><br />
Suhu <a href="http://formulabisnis.com/?id=lehmann">Bisnis Internet Yang Paling Direkomendasikan</a>, dalam blognya jokosusilo.com seringkali menulis tentang Bisnis Afiliasi ini, dalam salah satu <a href="http://jokosusilo.com/2008/01/26/mengenal-affiliate-program">artikelnya</a> antara lain:<br />
Dengan mengikuti affiliate program, Anda tidak perlu memiliki situs web <span id="more-331"></span>sendiri untuk menghasilkan uang, cukup bergabung dengan situs-situs web yang menawarkan program seperti ini.</p>
<p><strong>Nilai Plus lainnya:</strong></p>
<ul>
<li> Anda tidak perlu repot membuat produk. Tugas anda hanya mengantarkan pembeli pada penjual.</li>
<li> Anda bisa memilih berbagai <em>Affiliate Program</em> sesuai dengan keinginan dan minat Anda. Anda bisa punya banyak sumber penghasilan dari berbagai bisnis yang berbeda.</li>
<li> Komisi yang ditawarkan program ini biasanya relatif tinggi. Antara 10%-95%.</li>
<li> Anda bisa jadikan <em>Affiliate Program</em> sebagai sumber pendapatan pasif. Anda hanya perlu tinggal di rumah, tidak perlu kemana-mana. Dan, uang akan datang sendiri. Yang penting Anda tetap berpromosi. Atau bahkan, Anda masih bisa mengerjakan kegiatan <em>offline</em> Anda.</li>
</ul>
<p><strong>Anda pernah mengamati atau mengalami SISI NEGATIF-nya?</strong></p>
<ul>
<li> Karena Anda tidak memiliki produk sendiri, hasil penjualannya sangat tergantung pada tingkat penjualan produk orang lain yang berhasil Anda capai;</li>
<li>Ketergantungan tingkat penjualan Anda sangat erat dengan upaya pemasaran yang Anda lakukan &#8211; semakin sedikit upaya promosi Anda, semakin kecil peluang penjualannya, &#8211; bukan berarti jika Anda punya produk sendiri, tidak perlu melakukan promosi -. Upaya Promosi &#8230; Tetap &#8230; Harus Dilakukan !!!</li>
<li> Upaya promosi yang Anda lakukan untuk bisnis afiliasi, tidak mustahil &#8230; justru &#8230; mengantarkan &#8220;calon pembeli&#8221; ke situs <em>principal merchant</em> (pemilik produk) &#8211; dengan demikian Anda tidak memperoleh komisi yang seyogyanya Anda peroleh;</li>
<li> Dengan demikian, peluang untuk &#8220;ditinggalkan&#8221; oleh calon pembeli, jauh lebih besar ketimbang jika Anda punya produk sendiri &#8211; Mengapa ? Karena calon pembeli dapat dengan mudah &#8220;mengenali&#8221; <em>link</em> atau <em>URL</em> bisnis afiliasi;</li>
<li> Pemasaran bisnis afiliasi membutuhkan kejelian dan kemahiran serta kaya akan trik dan taktik &#8220;copywriting&#8221; &#8211; untuk itu Anda perlu banyak berlatih menulis copywriting, banyak mengamati iklan dan text promosi produk lainnya baik untuk mengenal &#8220;kebutuhan konsumen&#8221; maupun mengamati &#8220;produk serupa/sejenis&#8221; yang bisa jadi merupakan &#8220;pesaing&#8221;;</li>
<li> Selama kemahiran itu belum Anda kuasai, jangan terlampau berharap penjualan bisnis afiliasi Anda akan meningkat lebih pesat;</li>
<li> Dengan demikian Anda harus memiliki kesabaran lebih besar, dibanding jika Anda memiliki produk sendiri.</li>
</ul>
<p>Tapi &#8230;, jangan dulu kecil hati, &#8211; jangan malah takut mulai ACTION untuk Bisnis Afiliasi -, sebab sebagaimana Greg Phillips-Benjamin Disraeli mengatakan &#8230;<em><strong> &#8220;ACTION may not always bring SUCCESS, but there is NO SUCCESS WITHOUT ACTION&#8221;.</strong></em> Maka &#8230; pasti ada solusinya.</p>
<p><strong>Bagaimana SOLUSINYA?</strong><br />
Anda bisa belajar banyak, &#8211; seperti yang saya pelajari juga -, dari Blog JokoSusilo, &#8211; khususnya <a href="http://jokosusilo.com/2010/01/13/4-cara-mematikan-untuk-meningkatkan-komisi-affiliatereseller-anda">artikel yang satu ini</a> yang antara lain memberikan &#8220;jurus&#8221; agar membuat &#8220;differensiasi&#8221; website seperti yang dilakukan <a href="http://www.formulabisnisonline.com">Formula Bisnis Online,</a> &#8211; meskipun harus diakui untuk ini perlu ketrampilan yang cukup tinggi, &#8211; saya tahu mengenai hal ini karena saya sendiri masih mencoba membuat affiliate website -, dan saya sendiri sudah &#8220;berkunjung ke situs tersebut. Komentar saya: &#8220;Hebat, &#8230; memang hebat&#8221;, dan saya yakin dia akan cepat berhasil.</p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://www.onlywire.com/button" title="PLUS MINUS BISNIS AFILIASI" url="http://lehmannsblog.com/?p=331"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lehmannsblog.com/2010/01/plus-minus-bisnis-afiliasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BREAKING NEWS &#124; BERITA TERKINI DARI SMUO</title>
		<link>http://lehmannsblog.com/2010/01/breaking-news-berita-terkini-dari-smuo/</link>
		<comments>http://lehmannsblog.com/2010/01/breaking-news-berita-terkini-dari-smuo/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 09:37:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lehmann</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis online]]></category>
		<category><![CDATA[formulabisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komisi]]></category>
		<category><![CDATA[online business]]></category>
		<category><![CDATA[reseller]]></category>
		<category><![CDATA[smuo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lehmannsblog.com/?p=320</guid>
		<description><![CDATA[Buat Anda, &#8211; peminat Online Business -, berikut ini disampaikan beberapa informasi baru tentang SMUO, Sistem Mesin Uang Otomatis, yang banyak digandrungi para pebisnis online, yang anggota kominitasnya mencapai lebih dari 460.000 (data 11/01/10). Informasi di bawah ini dikeluarkan sehubungan dengan kebijakan baru dari merchant SMUO &#8211; Formulabisnis, terhitung mulai awal Januari 2010. Informasi pertama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buat Anda, &#8211; peminat Online Business -, berikut ini disampaikan beberapa informasi baru tentang <strong>SMUO</strong>, Sistem Mesin Uang Otomatis, yang banyak digandrungi para pebisnis online, yang anggota kominitasnya mencapai lebih dari 460.000 (data 11/01/10).</p>
<p>Informasi di bawah ini dikeluarkan sehubungan dengan kebijakan baru dari merchant <strong>SMUO &#8211; Formulabisnis</strong>, terhitung mulai awal Januari 2010.</p>
<p>Informasi <strong>pertama</strong> yang baru dari SMUO : Jika Anda membeli produk SMUO, berbagai bonus spesial (termasuk bonus baru) telah disediakan khusus untuk Anda peroleh, &#8211; secara gratis.</p>
<p>Informasi <strong>kedua</strong> yang lebih menarik : Anda mungkin belum tahu, bahwa jika Anda membeli SMUO, Anda berhak menjual produk itu lebih lanjut, &#8211; selaku &#8220;reseller&#8221; -, dengan mendapat komisi sebanyak 50% dari harga jualnya.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Mulai awal Januari 2010, komisi buat Anda dinaikkan menjadi 60%.</span></strong></p>
<p>Informasi<strong> ketiga</strong> : Bukan hanya itu lho, tapi komisi 60% itu pun berlaku atas harga baru yang telah disesuaikan. Jadi &#8230; Anda akan menerima komisi jauh lebih besar ketimbang 50% dari harga lama.</p>
<p>Anda Tidak tertarik?  &#8230; Oooh &#8230;, sayang sekali.</p>
<p>Tapi &#8230;, untuk lihat informasi produk, silahkan <a href="http://www.formulabisnis.com/?id=lehmann">KLIK DI SINI.</a></p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://www.onlywire.com/button" title="BREAKING NEWS | BERITA TERKINI DARI SMUO" url="http://lehmannsblog.com/?p=320"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lehmannsblog.com/2010/01/breaking-news-berita-terkini-dari-smuo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGENAL PELANGGAN LEBIH DEKAT</title>
		<link>http://lehmannsblog.com/2009/12/mengenal-pelanggan-lebih-dekat/</link>
		<comments>http://lehmannsblog.com/2009/12/mengenal-pelanggan-lebih-dekat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 04:54:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lehmann</dc:creator>
				<category><![CDATA[Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[action]]></category>
		<category><![CDATA[business profile]]></category>
		<category><![CDATA[company profile]]></category>
		<category><![CDATA[consumer-satisfaction]]></category>
		<category><![CDATA[joko susilo]]></category>
		<category><![CDATA[kepuasan-pelanggan]]></category>
		<category><![CDATA[pelanggan]]></category>
		<category><![CDATA[struktur website]]></category>
		<category><![CDATA[website-content]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lehmannsblog.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu dalam blog jokosusilo.com ditampilkan artikel tentang mengenali pelanggan (konsumen) . Dalam pengamatan saya selama berkecimpung dalam blogging sekitar 11 bulan terakhir saya jumpai hal-hal yang menarik untuk berbagi dengan teman-teman blogger. Pertama-tama saya jumpai bahwa pelanggan atau calon pelanggan serta kelompok pelanggan mempunyai minat yang berbeda satu dari lainnya, termasuk minat pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu dalam blog jokosusilo.com ditampilkan artikel tentang <a onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/outbound/article/jokosusilo.com');" href="http://jokosusilo.com/2009/10/12/kenali-dan-pahami-siapa-konsumen-anda">mengenali pelanggan (konsumen) </a>. Dalam pengamatan saya selama berkecimpung dalam blogging sekitar 11 bulan terakhir saya jumpai hal-hal yang menarik untuk berbagi dengan teman-teman blogger.<br />
Pertama-tama saya jumpai bahwa pelanggan atau calon pelanggan serta kelompok pelanggan mempunyai minat yang berbeda satu dari lainnya, termasuk minat pada informasi yang mereka kehendaki.<br />
Hasil pengamatan saya dalam menjelajahi internet dengan maksud “mempelajari” bentuk dan struktur website, khususnya mini website, ternyata hampir semuanya menampilkan informasi yang terstruktur sesuai dengan kelompok peminat informasi itu.<br />
Jika kita bandingkan dengan bisnis offline kira-kira analog dengan “<em>Company Profile</em>” atau sering juga disebut sebagai “<em>Business Profile</em>” yang minimal menampilkan hal-hal yang dibutuhkan berbagai kelompok sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Kelompok yang orientasinya pada Hubungan (<em>Relationship Oriented</em>) yang ingin tahu tentang siapa Anda, yang berada di belakang layar, bagaimana cara berhubungan dengan Anda dan informasi lainnya mengenai Anda.</li>
<li>Kelompok yang berorientasi pada Informasi (<em>Information Oriented</em>) <span id="more-294"></span>seperti “fakta”, “data” yang mereka suka membacanya dalam artikel (blog) khususnya mengenai “produk dan fungsinya”-nya, dsb. Di sinilah, agaknya, “review suatu produk” sangat berperan.</li>
<li>Kelompok yang orientasinya pada status (<em>Status Oriented</em>), yang menghendaki informasi tentang siapa pelanggannya, berapa banyak pelanggannya. Tidak kurang pentingnya perihal “hadiah” yang disediakan bagi calon pelanggan yang “mendaftar” atau “membeli”, yang meberikan gambaran “di mana posisi prospek yang bersangkutan” ditempatkan.</li>
<li>Kelompok yang berorientasi pada proses (<em>Process Oriented</em>), seperti jasa dan cara Anda bekerja melayani pesanan, apa yang harus mereka lakukan untuk mendaftar, membeli serta mendapatkan hadiah yang dijanjikannya, dsb.</li>
<li>Kelompok yang orientasinya pada Hasil (<em>Result Oriented</em>), misalnya – apa yang akan diperoleh kalau sudah mendaftar atau membeli produknya, apa saja manfaatnya, dsb. Di sinilah agaknya testimonial dan pernyataan kepercayaan sangat berperan.</li>
</ol>
<p>Yang kemudian timbul adalah pertanyaan yang perlu Anda jawab: “Sudahkah situs Anda memenuhi informasi yang mereka butuhkan dengan berbagai perbedaan tersebut?”<br />
Acapkali …, kalau pun Anda telah memberikan informasi yang mereka inginkan atau mereka butuhkan, … ternyata … informasi yang Anda sampaikan menggunakan media komunikasi yang salah. Maka perlu diketahui bahwa …</p>
<ul>
<li>Sebagian prospek Anda lebih suka informasi yang “terlihat” (<em>visual</em>), tertulis, ilustrasi, gambar, foto dan sejenisnya;</li>
<li>Sebagian lagi lebih suka informasi yang “terdengar” (<em>auditorial</em>) – maka Anda dapat menggunakan musik atau informasi audio;</li>
<li>Sebagian lainnya lebih suka pada informasi yang “terlihat dan terdengar” (<em>audio visual</em>) – maka Anda dapat menggunakan video / CD;</li>
</ul>
<p><strong>Ada prinsip belajar – mengajar yang menyatakan bahwa :</strong></p>
<ul>
<li>Hanya dengan mendengar – Anda mudah lupa;</li>
<li>Dengan melihat – Anda mudah ingat;</li>
<li>Dengan mendengar dan melihat – Anda mudah ingat dan … melekat;</li>
<li>Dengan berbuat (<em>action</em>) – maka … Anda dapat melakukannya.</li>
</ul>
<p><strong>Kesimpulannya:</strong> Kebanyakan dari kita melakukan kekeliruan yang tidak kita sadari, – Jika seseorang meminta Anda menceritakan tentang “Jasa atau barang yang Anda Tawarkan” … Anda menganjurkannya agar “membaca” informasi.<br />
Yakinkan bahwa hal itu tidak lagi Anda lakukan. Sebagai solusinya: Buatlah isi situs Anda mengandung informasi yang “menjawab” kebutuhan prospek Anda (<em>Relationship – Information – Status – Process – Result</em>).<br />
Kuncinya adalah : Prospek anda perlu mengetahui “Bagaimana Anda Membantu Mereka”, jadi berilah mereka pengetahuan tentang bisnis Anda dengan Isi Situs (<em>content</em>) yang mereka butuhkan, jika Anda tidak ingin kehilangan prospek Anda.<br />
Sebagaimana yang mungkin telah Anda pelajari tentang <strong>Prinsip Pemasaran</strong>, yaitu :  “<strong>Memecahkan Masalah</strong> yang dihadapi <strong>Konsumen</strong>“.</p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://www.onlywire.com/button" title="MENGENAL PELANGGAN LEBIH DEKAT" url="http://lehmannsblog.com/?p=294"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lehmannsblog.com/2009/12/mengenal-pelanggan-lebih-dekat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PERLUNYA NIAT, TEKAD DAN UPAYA UNTUK MENCAPAI PERUBAHAN</title>
		<link>http://lehmannsblog.com/2009/11/perlunya-niat-tekad-dan-upaya-untuk-mencapai-perubahan/</link>
		<comments>http://lehmannsblog.com/2009/11/perlunya-niat-tekad-dan-upaya-untuk-mencapai-perubahan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 15:34:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lehmann</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[niat]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan diri]]></category>
		<category><![CDATA[tekad]]></category>
		<category><![CDATA[upaya]]></category>
		<category><![CDATA[upaya tanpa henti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lehmannsblog.com/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[Banyak di antara Anda yang ingin melakukan perubahan diri untuk sukses. Namun lingkungan membuat Anda tidak berbuat apa pun untuk berubah. Artikel ini mengisahkan tentang “perlunya niat, tekad (internal motivation) dan upaya” atau “action” untuk mencapai suatu perubahan bagi kepentingan diri sendiri dan/atau bagi kaumnya.  Inilah kisahnya &#8230;  Selamat menikmati. KISAH SANG ELANG Seorang petani [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak di antara Anda yang ingin melakukan perubahan diri untuk <a href="http://lehmannsblog.com/2009/03/anda-ingin-sukses">sukses</a>. Namun lingkungan membuat Anda tidak berbuat apa pun untuk berubah. Artikel ini mengisahkan tentang “perlunya niat, tekad (<em>internal motivation</em>) dan <a href="http://lehmannsblog.com/2009/08/antara-impian-motivasi-upaya-dan-sukses">upaya</a>” atau “<a href="http://lehmannsblog.com/2009/05/action-maju-selangkah-mundur-dua-langkah">action</a>” untuk mencapai suatu perubahan bagi kepentingan diri sendiri dan/atau bagi kaumnya.  Inilah kisahnya &#8230;  Selamat menikmati.</p>
<h3>KISAH SANG ELANG</h3>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-282" title="Kisah Sang Elang" src="http://lehmannsblog.com/wp-content/uploads/2009/11/elang1.jpg" alt="Kisah Sang Elang" width="150" height="113" />Seorang petani menemukan sebuah telur di sawahnya, dan ternyata telur yang ditemukannya itu adalah telur seekor elang. Namun si petani tersebut tidak menyadarinya.</p>
<p>Wah..lumayan nih dapet sebutir telur , bisa untuk tambahan menu makanan hari ini, pikir si petani. Sesampainya di rumah, petani tersebut urung melakukan niatnya, melihat bentuk telur itu yang agak besar dan berbeda dengan telur ayam biasanya.</p>
<p>Akhirnya si petani tersebut menaruh telur elang tersebut di kandang seekor ayam betina di belakang rumahnya untuk di erami.</p>
<p>Hari berganti hari, dan akhirnya telur elang itupun menetas bersama dengan telur- telur ayam lainnya. Masa kanak-kanak elang tersebut dihabiskan dengan anak-anak ayam yang lain. Dan akhirnya tingkah elang tersebut pun seperti layaknya ayam yang lain.</p>
<p>Si anak elang menjalani kehidupannya seperti ayam, seperti yang dilakukan sang saudara tirinya, mencari cacing,bermain dengan ayam-ayam.</p>
<p>Sehingga suatu saat dia melihat ada seekor elang terbang diatas mereka, sang anak elang pun terpana melihat elang tersebut terbang bebas diangkasa. “Wah enak ya si elang bisa terbang bebas”, kata si anak elang tersebut. ”Jangan mimpi deh, kamu kan ayam nggak bisa terbang seperti mereka”, kata saudara tiri si elang tersebut.</p>
<p>Anak elang tersebut tumbuh dewasa. Badannya semakin tegar, sayapnya <span id="more-281"></span>semakin kokoh-kuat, paruhnya semakin tajam, dan kakinya semakin mencengkram. Tapi dia masih saja bertingkah seperti ayam. Dia tidak berani untuk mengepakkan sayapnya, hanya bersedih melihat dirinya berbeda dengan ayam-ayam lainnya dan hanya bisa memandang ke langit memperhatikan burung-burung lain yang terbang. Hingga akhirnya si elang itupun mati tanpa ia bisa mengepakkan sayapnya dan terbang tinggi di angkasa.</p>
<p>—————————-</p>
<p>Sebuah pelajaran yang berharga dari cerita di atas. Diibaratkan, diri kita adalah seekor elang yang sebetulnya mampu untuk terbang, melayang tinggi, dan bermain di angkasa. Hanya tinggal kemauan untuk mencoba mengepakkan sayap, maka kita akan bisa terbang bersama burung-burung yang lain dan malah bisa lebih tinggi kalau kita menyadari bahwa diri kita memiliki kelebihan dan kekuatan untuk melakukan hal itu.</p>
<p>Tapi sayang, kadang-kadang mental kita masih berada jauh dari impian, masih berkutat di dalam lingkungan yang sempit, kuno, dan tidak mau berubah seperti eleng tadi. Untuk keluar mencoba melakukan sesuatu hal yang baru masih belum bisa dan tidak berani melakukannya. Kita masih terkondisikan oleh lingkungan, tanpa mau tahu sebetulnya kita juga bisa menciptakan kondisi lingkungan.</p>
<p>Memang berat menjadi seekor elang di lingkungan ayam, karena memang sudah menjadi kebiasaan, menjadi sebuah tabiat, semua dilakukan atas asas tradisi. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba, tidak ada salahnya untuk bisa berubah. Hidup adalah sebuah alur yang tidak selalu lurus. Ia bergerak dinamis mengikuti arah perkembangan jaman.</p>
<p>Banyak rintangan dan hambatan menjadikan sebuah pelajaran buat kita tuk bisa menghadapinya. Kesabaran tuk belajar mengepakkan sayap secara perlahan-lahan tapi pasti akan menunjukkan jati diri bahwa kita adalah manusia yang diciptakan oleh Allah secara sempurna yang diberikan akal untuk berpikir, tuk bertahan hidup, dan juga tuk bisa merasakan setiap perbedaan dengan perubahan.</p>
<p><strong><em>Artikel ini dapat disajikan berkat kerjasama sharing dengan </em></strong><strong><em><a title="BERBAGI INSPIRASI &amp; MOTIVASI" href="http://irmasustikablogspotcom.blogspot.com">Irma Sustika</a></em></strong><strong><em> diiringi penghargaan dan terima kasih. Semoga dapat memberikan inspirasi dan motivasi bagi banyak pembaca yang ingin melakukan perubahan diri.</em></strong></p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://www.onlywire.com/button" title="PERLUNYA NIAT, TEKAD DAN UPAYA UNTUK MENCAPAI PERUBAHAN" url="http://lehmannsblog.com/?p=281"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lehmannsblog.com/2009/11/perlunya-niat-tekad-dan-upaya-untuk-mencapai-perubahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENTINGNYA BERPIKIRAN POSITIF DALAM BERBISNIS</title>
		<link>http://lehmannsblog.com/2009/08/pentingnya-berpikiran-positif-dalam-berbisnis/</link>
		<comments>http://lehmannsblog.com/2009/08/pentingnya-berpikiran-positif-dalam-berbisnis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 14:54:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lehmann</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[berpikiran negatif]]></category>
		<category><![CDATA[berpikiran positif]]></category>
		<category><![CDATA[formulabisnis]]></category>
		<category><![CDATA[joko susilo]]></category>
		<category><![CDATA[negative thinking]]></category>
		<category><![CDATA[positive thnking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lehmannsblog.com/stop-dreaming-start-action-kontes-seo-jokosusilo/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita menjumpai berbagai tipe orang. Banyak di antaranya yang selalu berpikiran negatif (negative thinking), yang hampir tidak pernah menilai segala sesuatu dari sisi positif, baru setelah mendapat &#8220;keyakinan&#8221; yang mungkin diperolehnya dari &#8220;guru&#8221;-nya, teman sekerja, istrinya, bahkan mungkin dari mertuanya, dia berani bertindak (action). Namun, tidak sedikit pula orang yang berpikiran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita menjumpai berbagai tipe orang. Banyak di antaranya yang selalu berpikiran negatif (negative thinking), yang hampir tidak pernah menilai segala sesuatu dari sisi positif, baru setelah mendapat &#8220;keyakinan&#8221; yang mungkin diperolehnya dari &#8220;guru&#8221;-nya, teman sekerja, istrinya, bahkan mungkin dari mertuanya, dia berani bertindak (action). Namun, tidak sedikit pula orang yang berpikiran positif (positive thinking) yang kita kenal.<br />
Di dalam melakukan bisnis, &#8211; baik bisnis offline maupun online, berpikiran positif lazimnya dinilai lebih baik daripada berpikiran negatif. Harus kita akui, sebenarnya banyak pelaku bisnis yang berhasil berasal dari kelompok yang berpikiran negatif. Sebaliknya, pelaku bisnis yang berpikiran positif tidak semuanya berhasil. Banyak terdengar pelaku bisnis yang jatuh bangun karena nalurinya yang terlampau banyak dipengaruhi oleh pikiran positifnya, <span id="more-196"></span>sehingga melupakan sisi risiko yang mungkin terjadi. Kedua hal sama-sama mungkin terjadi.</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-200" title="Kadar Pemikiran Positif-Negatif" src="http://lehmannsblog.com/wp-content/uploads/2009/08/KadarPemikiran-300x266.gif" alt="Kadar Pemikiran Positif-Negatif" width="300" height="266" />Logikanya begini&#8230; Di dalam diri setiap orang bersarang kedua pikiran itu, namun kadarnya berbeda-beda. Ada yang kadar pikiran negatifnya hanya 10%, 25%, 30%, 40% 50% dan seterusnya. Sama halnya pikiran positive yang kadarnya bisa berbeda juga dari seorang dengan yang lainnya (lihat diagram ilustrasi), di antara keduanya tentu ada juga yang relatif berimbang, 50%-50% antara pikiran positif dan negatifnya.<br />
Mungkin Anda pernah mengalaminya, ketika melihat Iklan Bisnis Internet Anda berprasangka negatif, jangan-jangan penipuan &#8230; , jangan-jangan cuma janji &#8230; dsb &#8230; dsb. Tapi lihatlah <a href="http://formulabisnis-joss.co.cc">Bisnis Internet yang terbukti berhasil</a> dan <img class="alignleft size-full wp-image-206" title="Kantor Baru FormulaBisnis.com" src="http://lehmannsblog.com/wp-content/uploads/2009/08/muka-kantor-150x150.jpg" alt="Kantor Baru FormulaBisnis.com" width="150" height="150" />teruji baru saja <a href="http://jokosusilo.com/2009/08/21/joko-susilo-pindah-kantor-baru">pindah kantor baru</a> sebagai bukti keberhasilan Bisnis Internet, jika benar-benar ditekuni dengan kesabaran dan kesungguhan, dan tentu saja disertai dengan &#8220;harapan positif&#8221; (sukses).<br />
Mengenai hal ini ada cerita menuturkan soal &#8220;berpikiran positif&#8221;  (positive thinking) yang membawa bisnis menuju  sukses.</p>
<p>Sebuah pabrik sepatu bermaksud membuka cabang usaha di salah satu negara Afrika. Untuk mendapat informasi peluang pasarnya, sang Direktur mengirim staffnya untuk melakukan pengamatan dan penelitian tentang hal itu. Pendek cerita, staffnya sudah kembali ke kantor pusat pabrik sepatu itu dan melapor kepada sang Direktur, terjadilah dialog seperti berikut.<br />
Direktur : Nah, bagaimana hasil pengamatanmu mengenai peluang bisnis kita di sana?<br />
Staf          : Maaf pak. Tapi sebaiknya tidak usah buka cabang usaha di sana, pak. Tidak ada peluang.<br />
Direktur : Kamu yakin?<br />
Staf          : 100% yakin, pak?<br />
Direktur : Apa yang membuat kamu 100% yakin?<br />
Staf          : Penduduk di sana semua tidak pakai sepatu, pak. Nggak ada yang perlu sepatu.<br />
Direktur : Oh, baiklah kalau begitu.<br />
Diam-diam sang Direktur tidak merasa yakin dan kurang puas dengan hasil pengamatan stafnya dan mengirim staf ke-2 ke negara itu dengan tugas yang sama, mengamati dan meneliti peluang pasar. Pada malam pertama staf tersebut berada di negara itu, dia menghubungi direkturnya dan inilah dialognya.<br />
Direktur : Ada apa kamu, kok baru malam pertama sudah menghubungi saya?<br />
Staf          : Begini, pak. Ternyata untuk membuka cabang usaha di sini peluangnya sangat besar, pak.<br />
Direktur : Lho kok &#8230;, bagaimana bisa begitu?<br />
Staf          : Semua penduduk di sini  belum punya sepatu.<br />
Direktur : Oh, baik kalau begitu. Kesempatan pertama besok, kamu segera pulang.<br />
Tidak lama kemudian dibukalah cabang usaha sepatunya di negara tersebut dan &#8230; staf ke-2 itulah yang menjadi pemimpinnya.<br />
Cerita ini menyampaikan pesan betapa pentingnya &#8220;pikiran positif&#8221; dalam berbisnis.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan posisi Anda? Positif &gt;50%, atau Negatif &gt;50%?</strong></p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://www.onlywire.com/button" title="PENTINGNYA BERPIKIRAN POSITIF DALAM BERBISNIS" url="http://lehmannsblog.com/stop-dreaming-start-action-kontes-seo-jokosusilo/?p=196"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lehmannsblog.com/2009/08/pentingnya-berpikiran-positif-dalam-berbisnis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
