<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lehmann &#187; Enterpreneurship</title>
	<atom:link href="http://lehmannsblog.com/category/enterpreneurship/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lehmannsblog.com</link>
	<description>SERBA-SERBI BISNIS INTERNET</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 May 2012 15:43:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Beberapa Prinsip Populer dalam Berbisnis</title>
		<link>http://lehmannsblog.com/beberapa-prinsip-populer-dalam-berbisnis.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=beberapa-prinsip-populer-dalam-berbisnis</link>
		<comments>http://lehmannsblog.com/beberapa-prinsip-populer-dalam-berbisnis.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Mar 2012 15:22:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lehmann</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[bonus]]></category>
		<category><![CDATA[classified ads]]></category>
		<category><![CDATA[diskon]]></category>
		<category><![CDATA[iklan baris]]></category>
		<category><![CDATA[iklan mini]]></category>
		<category><![CDATA[Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[pelanggan adalah raja]]></category>
		<category><![CDATA[philip kotler]]></category>
		<category><![CDATA[prinsip berbisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lehmannsblog.com/?p=816</guid>
		<description><![CDATA[Saya sering mendengar, &#8211; mungkin Anda juga -, beberapa pelaku bisnis mengatakan bahwa dalam berbisnis banyak prinsip yang harus kita pegang teguh supaya bisnisnya sukses. Yang saya tahu ada beberapa prinsip yang dipegang kalangan bisnis, antara lain bahwa : Waktu adalah Uang; Mancing Ikan Besar, Umpannya Besar. Pebisnis Amerika mengatakan, kalau kamu hanya berumpan &#8220;kacang&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sering mendengar, &#8211; mungkin Anda juga -, beberapa pelaku bisnis mengatakan bahwa dalam berbisnis banyak prinsip yang harus kita pegang teguh supaya bisnisnya sukses. Yang saya tahu ada beberapa prinsip yang dipegang kalangan bisnis, antara lain bahwa :</p>
<ul>
<li>Waktu adalah Uang;</li>
<li>Mancing Ikan Besar, Umpannya Besar. Pebisnis Amerika mengatakan, kalau kamu hanya berumpan &#8220;kacang&#8221; hanya akan mendapat &#8220;monyet&#8221; (bukan gajah);</li>
<li>Untung sedikit, asal laku banyak, dsb., dsb.</li>
</ul>
<p>Lain lagi dengan pakar Pemasaran Philip Kotler yang menyatakan bahwa marketing itu tidak hanya dilakukan oleh pihak penjual saja, melainkan pihak pembeli pun melakukannya. Dalam hubungan ini banyak orang bertanya, termasuk mahasiswa saya (sewaktu saya masih mengajar), &#8211; mungkin Anda juga bertanya-tanya -, masa iya sih? Mengenai hal ini, di Indonesia, sangat banyak dan mudah dijumpai sebagai bukti bahwa pemasaran itu dilakukan juga oleh pembeli. &#8230; Tahan dulu. Nanti saya beritahukan di akhir artikel ini.</p>
<p><strong>Waktu adalah Uang</strong></p>
<p>Prinsip yang satu ini mudah diucapkan, susah dilaksanakan. Maksud dari prinsip yang berbunyi agak sloganistis itu tidak secara harfiah, yang berarti kalau kita punya waktu maka kita punya uang, bukan itu, melainkan merupakan prinsip bagi pebisnis agar memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk sesuatu yang bisa menciptakan uang. Artinya, menggunakan waktu secara produktif, apakah untuk berproduksi, atau mencari pelanggan / pembeli dengan cara promosi dan sejenisnya.<br />
Meskipun demikian ada kegiatan atau pekerjaan yang menghasilkan uang sesuai <span id="more-816"></span>dengan waktu yang digunakan, semakin lama waktu berlalu, semakin banyak uang masuk. Seperti misalnya,</p>
<ul>
<li>Hotel, menyewakan kamarnya berdasarkan waktu, sekian ribu rupiah per malam;</li>
<li>Menyewakan rumah, sekian juta rupiah per tahun;</li>
<li>Menyewakan mobil (car rental), sekian ribu rupiah per jam/hari/minggu/bulan; demikian juga</li>
<li>Bisnis video/CD rental, perpustakaan, dsb. hitungan harganya berdasarkan waktu, dll.</li>
</ul>
<p>Di sini betul-betul waktu secara harfiah berarti uang.</p>
<p><strong>Mancing Ikan Besar, Umpannya Besar</strong></p>
<p>Dalam dunia usaha, dikenal ketentuan yang menyatakan tidak ada bisnis yang tidak perlu modal. Sekecil apa pun pasti diperlukan modal untuk berbisnis. Saya kira Anda pun sudah sering mendengar atau membaca tentang hal itu. Di samping itu, kita tahu bahwa bisnis yang besar modalnya pun perlu besar. Yang dimaksud modal dalam hal ini tidak selalu berupa uang. Untuk mendapat penghasilan yang besar dari modal kecil pun, sebenarnya bisa terjadi, dengan syarat punya modal lain yang bukan berupa uang. <strong>Tenaga</strong>, untuk kerja keras; <strong>waktu</strong>; <strong>pemikiran</strong> yang tajam, kreatif dan inovatif untuk berproduksi dan pemasarannya; kepandaian <strong>membaca peluang</strong>; kepandaian membaca pasar (<strong>persaingan</strong>), dsb. Apalagi modal uang yang besar yang disertai semua modal non-finansial itu, yakin akan meraih hasil yang besar.</p>
<p><strong>Untung Sedikit, Asal Laku Banyak</strong></p>
<p>Yang satu ini seringkali kita dengar di kawasan pecinan, misalnya Glodok di Jakarta. Maksudnya tidak lain adalah volume penjualan secara keseluruhan yang dilihat, bukan hanya melihat hasil dari satu transaksi saja, satu kali untung besar lantas tidak ada lagi pembeli. Bahkan di kalangan tukang sayur, dikenal istilah &#8220;<strong>rugi di cabe untung di bawang</strong>&#8221; atau sebaliknya, yang maksudnya saling menutup kerugian agar hasilnya secara keseluruhan adalah untung. Hal ini sangat erat juga hubungannya dengan masalah pemeliharaan hubungan dengan pelanggan. Seringkali terjadi pemberian diskon, bonus bagi pelanggan yang setia, dan atas pembelian jumlah besar (<em>bulk</em>). Tidak mustahil diskon dan bonus itu juga diberikan kepada pelanggan yang &#8220;<em>complain</em>&#8221; atau mengeluh karena merasa kurang atau tidak puas. Yang terakhir ini juga erat hubungannya dengan menjaga hubungan dengan pelanggan yang seringkali harus diperlakukan sebagai raja. Anda pernah dengar istilah Pelanggan adalah Raja, kan?</p>
<p><strong>Pembeli pun Melakukan Pemasaran</strong></p>
<p>Inilah penjelasan yang saya janjikan. Sebagaimana diutarakan di atas, bahwa pemasaran tidak hanya dilakukan oleh penjual, melainkan pembeli pun melakukan pemasaran. Mungkin Anda sendiri pernah atau sering melihat atau menyaksikan peristiwa yang dimaksud. Misalnya, di halaman iklan koran, yang dikenal sebagai Iklan Mini, Iklan Baris, atau istilah kerennya <em>Classified Ads</em>, dsb. di mana Anda akan menjumpai iklan-iklan seperti ini: <span style="text-decoration: underline;">BERANI Beli dengan harga tinggi mobil bekas segala merk th 1995 ke atas.</span> Bahkan dalam kehidupan sehari-hari (bukan dalam konteks bisnis), sering kita dengar di kompleks perumahan, atau kampung, Penjaja Keliling yang berteriak: &#8220;Botooool, Aki bekaaaas, Barang bekaaaas&#8221;. Menurut Anda mereka bermaksud menjual atau membeli barang yang dijajakannya? &#8230; Betul, jawabannya: Bukan menjual, tapi membeli. Sebagai pembeli dia melakukan pemasaran. Bukti yang nyata atas pernyataan Philip Kotler, sang pakar pemasaran asal Amerika itu.</p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://www.onlywire.com/button" title="Beberapa Prinsip Populer dalam Berbisnis" url="http://lehmannsblog.com/?p=816"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lehmannsblog.com/beberapa-prinsip-populer-dalam-berbisnis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGUBAH PEMIKIRAN NEGATIF MENJADI POSITIF</title>
		<link>http://lehmannsblog.com/mengubah-pemikiran-negatif-menjadi-positif.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=mengubah-pemikiran-negatif-menjadi-positif</link>
		<comments>http://lehmannsblog.com/mengubah-pemikiran-negatif-menjadi-positif.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jul 2011 14:34:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lehmann</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis internet]]></category>
		<category><![CDATA[negatif thinking]]></category>
		<category><![CDATA[positif thinking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lehmannsblog.com/?p=506</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah Anda mencoba merenung, apakah Anda seorang yang berpikiran positif (positive thinking) atau negatif (negative thinking)? Ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk menjadikan Anda positive tinking. Silahkan Anda mencoba. 1. Ketika Anda melihat atau membaca iklan &#8220;Bisnis Internet&#8221;, komentar apa yang muncul di benak Anda, inikah &#8230;? Ah, mustahil; Allaa, bohong aja; Penipuan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah Anda mencoba merenung, apakah Anda seorang yang berpikiran positif (<em>positive thinking</em>) atau negatif (<em>negative thinking</em>)? Ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk menjadikan Anda positive tinking. Silahkan Anda mencoba. <strong></strong></p>
<p><strong>1. Ketika Anda melihat atau membaca iklan &#8220;Bisnis Internet&#8221;, komentar apa yang muncul di benak Anda, inikah &#8230;?</strong></p>
<ul>
<li>Ah, mustahil;</li>
<li>Allaa, bohong aja;</li>
<li>Penipuan tuh;</li>
<li>Yang bener aja;</li>
<li>Tidak mungkin laaah, dsb., dsb.</li>
</ul>
<p>Tentu saja masih banyak lagi pernyataan yang negatif seperti itu. Anda bisa <span id="more-506"></span>membuat daftarnya lebih panjang.  <strong></strong></p>
<p><strong>2. Namun demikian, ada pula yang berkomentar dalam bentuk &#8220;pertanyaan&#8221; (bukan &#8220;pernyataan&#8221;), yang menjurus pada pemikiran positif, seperti:</strong></p>
<ul>
<li>Ah, masa sih?</li>
<li>Apa mungkin?</li>
<li>Apa iya? Apa sih bisnisnya?</li>
<li>Benarkah? Bagaimana caranya, ya?</li>
<li>Emang bisa, ya? dsb., dsb.</li>
</ul>
<p>Dalam kenyataan membuktikan bahwa Bisnis Internet semakin hari semakin semarak diminati para pendatang baru,  sehingga berkembang dengan sangat dahsyat. Mengapa? Karena banyak yang berpikiran positif ketika dia tahu ada bisnis internet.  <strong></strong></p>
<p><strong>3. Pernyataan atau pertanyaannya rata-rata seperti ini:</strong></p>
<ul>
<li>Boleh juga nih, buat sumber nafkah extra;</li>
<li>Ini dia yang saya cari, buat kebebasan finansial;</li>
<li>Saya mau coba ah. Siapa tahu jadi jutawan;</li>
<li>Kebetulan nih, saya sedang nganggur;</li>
<li>Perlu dicoba nih. Buat persiapan pensiun.</li>
</ul>
<p><strong>4. Sekarang silahkan Anda jawab pertanyaan di bawah ini:</strong> Jika Anda melihat ember, gelas, botol atau apapun, setengahnya terisi air, apa yang Anda katakan?</p>
<ul>
<li>a. Setengah penuh ? &#8230; atau</li>
<li>b. Setengah kosong ? &#8230; dan</li>
</ul>
<p><strong>5. Jika isinya 3/4 (tiga per empat), apa komentar Anda?</strong></p>
<ul>
<li>a. Hampir penuh ? &#8230; atau</li>
<li>b. Tidak penuh ? Anda merasakan bedanya semua itu, kan?</li>
</ul>
<p>Selamat bagi Anda yang menjawab 4a dan 5a, Anda orang yang <em>positive thinking</em>.  Bagi anda yang menjawab 4b dan 5b, cobalah Anda berlatih membiasakan diri untuk mengubah kebiasaan menggunakan kalimat, pernyataan atau pertanyaan yang bernada negatif dengan yang bermakna positif, misalnya:</p>
<ol>
<li><em>Mendapatkan uang dari bisnis internet itu <strong>tidak mungkin</strong>, menjadi : <strong>tidak mustahil</strong>;</em> Masih ingat hukum matematika di SMP dulu? : (-2)x(-10) = (+20); (-a)x(-b)=(+ab). Jadi, agar pemikiran Anda yang negatif menjadi positif, gabungkanlah pernyataan negatif dengan yang negatif juga, seperti contoh di atas, tidak = negatif, mungkin = positif, maka hasilnya = negatif; sedangkan tidak = negatif, mustahil = negatif, hasilnya = positif;</li>
<li><em>Contoh lain, positif </em>: &#8220;Mencoba bisnis internet itu <strong><em>tidak salah</em></strong> (<em>negxneg=pos</em>), <em><strong>tidak susah </strong></em>(<em>negxneg=pos</em>), <strong><em>bisa sukses </em></strong>(<em>posxpos=pos</em>), <strong><em>bukan mustahil </em></strong>(<em>negxneg=pos</em>)&#8221;, dsb.;</li>
<li><em>Contoh negatif </em>: &#8220;Melakukan bisnis internet itu <strong><em>tidak benar </em></strong>(<em>negxpos=neg</em>), <strong><em>tidak mudah </em></strong>(<em>negxpos=neg</em>), <em><strong>tidak mungkin sukses </strong></em>(<em>negxposxpos=neg</em>)&#8221;,  -ingat?: (-a)x(+b)x(+c)=(-abc), dsb.</li>
</ol>
<p><strong>SELAMAT MENCOBA UNTUK MEWUJUDKAN POSITIVE THINKING DEMI SUKSESNYA BISNIS ANDA !</strong></p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://www.onlywire.com/button" title="MENGUBAH PEMIKIRAN NEGATIF MENJADI POSITIF" url="http://lehmannsblog.com/?p=506"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lehmannsblog.com/mengubah-pemikiran-negatif-menjadi-positif.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PRODUK BISNIS IDEAL SEKILAS PANDANG</title>
		<link>http://lehmannsblog.com/produk-bisnis-ideal-sekilas-pandang.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=produk-bisnis-ideal-sekilas-pandang</link>
		<comments>http://lehmannsblog.com/produk-bisnis-ideal-sekilas-pandang.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Dec 2010 09:14:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lehmann</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[barang]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis ideal]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi produk]]></category>
		<category><![CDATA[ideal]]></category>
		<category><![CDATA[informasi]]></category>
		<category><![CDATA[jasa]]></category>
		<category><![CDATA[kegunaan produk]]></category>
		<category><![CDATA[produk]]></category>
		<category><![CDATA[produk ideal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lehmannsblog.com/?p=384</guid>
		<description><![CDATA[Dalam blognya beberapa waktu lalu, Joko Susilo.com menampilkan artikel tentang Bisnis Ideal di mana dikemukakan salah satu kriterianya adalah &#8220;dibutuhkan semua orang&#8221;. Jadi salah satu bisnis yang ideal itu menyangkut produk (barang atau jasa) yang dibutuhkan semua orang. Membaca hal itu saya jadi teringat kembali pada prinsip-ekonomi yang sangat mendasar, bahwa pada dasarnya produk itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam blognya beberapa waktu lalu, Joko Susilo.com menampilkan <a href="http://jokosusilo.com/2010/11/25/seperti-apa-bisnis-yang-ideal">artikel tentang Bisnis Ideal</a> di mana dikemukakan salah satu kriterianya adalah &#8220;dibutuhkan semua orang&#8221;. Jadi salah satu bisnis yang ideal itu menyangkut produk (barang atau jasa) yang dibutuhkan semua orang.<br />
Membaca hal itu saya jadi teringat kembali pada prinsip-ekonomi yang sangat mendasar, bahwa pada dasarnya produk itu, &#8211; barang atau jasa -,  terbagi dalam beberapa kelompok berdasarkan &#8220;kegunaannya&#8221; (<em>utility</em>), antara lain:</p>
<ul>
<li><em>time utility</em>, kelompok produk ini hanya berguna pada waktu-waktu tertentu, pakaian musim dingin banyak bermanfaat pada waktunya;</li>
<li><em>place utility</em>, kelompok produk ini kegunaanya hanya di tempat-tempat tertentu, misalnya pakaian musin dingin hanya bermanfaat di negara bercuaca dingin dan sebaliknya untuk pakaian daerah tropik;</li>
<li><em>possession</em> (<em>ownership</em>) <em>utility</em>, kelompok produk yang lebih banyak berguna karena pemilikannnya, orang yang tidak memilikinya tidak memperoleh kegunaannya.</li>
</ul>
<p>Di samping itu ada pengelompokkan lain yang berdasarkan fungsi dan frekwensi pembeliannya, seperti :</p>
<ol>
<li>barang konsumsi yang dibutuhkan semua orang dan dibeli sehari-hari (<em>consumer goods</em>) contohnya sembako; <span id="more-384"></span></li>
<li>kebutuhan utama semua orang tapi pembeliannya jarang dilakukan (<em>shopping goods</em>) contohnya pakaian, sepatu, tas, topi dsb;</li>
<li>barang tahan lama yang pembeliannya mungkin hanya satu kali seumur hidup (<em>durable goods</em>) seperti <em>furniture</em>, pesawat TV, pesawat telpon, radio, cassette/cd-dvd-player, komputer, kendaraan bermotor dll. Kelompok ini merupakan lawan/kebalikan dari barang tidak tahan lama, &#8211; kelompok 1 dan 2 di atas -, yang habis atau rusak dalam tempo relatif lebih singkat jika dibanding dengan barang tahan lama (<em>durables</em>);</li>
<li>barang yang digunakan sebagai modal (<em>capital goods</em>), digunakan terutama dalam kaitannya dengan usaha bisnis dan/atau berproduksi.</li>
</ol>
<p>Dalam hal Anda ingin membuka bisnis, Anda tinggal memilih kelompok produk yang ingin Anda tawarkan kepada kelompok konsumen/pemakai tertentu.<br />
Jika Anda memilih untuk bisnis &#8220;<em>software</em>&#8221; yang dapat digunakan untuk bisnis internet misalnya, menurut Anda termasuk kelompok produk yang mana? &#8230; Tepat, kelompok barang modal. Anda mungkin bertanya, apakah semua orang (yang ber-internet ria) &#8220;butuh&#8221; produk untuk digunakan sebagai modal?<br />
Untuk mencari dan mendapatkan ide tentang bisnis ideal, perlu kita mengenal informasi tersebut di atas, mengingat masing-masing produk memiliki fungsi dan kegunaan atau manfaat berbeda. Jenis barang yang sama belum tentu sama kegunaannya bagi orang lain, seperti komputer bagi seseorang hanya sekedar sebagai alat untuk menulis dan menyimpan dokumen. Tapi bagi orang lain merupakan alat mencari nafkah atau sebagai modal bisnis.<br />
Informasi di atas sekedar untuk berbagi pengalaman dan pendapat tentang kelompok-kelompok produk dengan harapan dapat bermanfaat bagi Anda dalam mewujudkan Bisnis Ideal Anda.<br />
Bagaimana menurut Anda?</p>
<p>Salam SUKSES.</p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://www.onlywire.com/button" title="PRODUK BISNIS IDEAL SEKILAS PANDANG" url="http://lehmannsblog.com/?p=384"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lehmannsblog.com/produk-bisnis-ideal-sekilas-pandang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ANDA BERJIWA PEGAWAI ATAU BERJIWA INVESTOR?</title>
		<link>http://lehmannsblog.com/anda-berjiwa-pegawai-atau-berjiwa-investor.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=anda-berjiwa-pegawai-atau-berjiwa-investor</link>
		<comments>http://lehmannsblog.com/anda-berjiwa-pegawai-atau-berjiwa-investor.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 08:09:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lehmann</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[business-owner]]></category>
		<category><![CDATA[cashflow]]></category>
		<category><![CDATA[employee]]></category>
		<category><![CDATA[enterpreneur]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[mind-set]]></category>
		<category><![CDATA[pegawai]]></category>
		<category><![CDATA[pekerja bebas]]></category>
		<category><![CDATA[pekerja lepas]]></category>
		<category><![CDATA[pekerja mandiri]]></category>
		<category><![CDATA[pemilik bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[penanam modal]]></category>
		<category><![CDATA[pola pikir]]></category>
		<category><![CDATA[qudrant]]></category>
		<category><![CDATA[self-employed]]></category>
		<category><![CDATA[wirausahawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lehmannsblog.com/?p=374</guid>
		<description><![CDATA[Saya yakin Anda pernah mendengar nama Robert T. Kyosaki, warganegara Amerika keturunan Jepang, tinggal di Hawaii. Ia adalah seorang motivator bisnis yang menulis buku The Cashflow Quadrant, &#8211; Kwadran Aliran Uang. Ia bukan hanya sekedar motivator bisnis, melainkan juga motivator &#8220;kebebasan finasial&#8221; (financial freedom) melalui bukunya yang tersohor Rich Dad, Poor Dad, &#8211; Ayah Kaya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya yakin Anda pernah mendengar nama Robert T. Kyosaki, warganegara Amerika keturunan Jepang, tinggal di Hawaii. Ia adalah seorang motivator bisnis yang menulis buku <em>The Cashflow Quadrant</em>, &#8211; Kwadran Aliran Uang. Ia bukan hanya sekedar motivator bisnis, melainkan juga motivator &#8220;kebebasan finasial&#8221; (<em>financial freedom</em>) melalui bukunya yang tersohor <em>Rich Dad, Poor Dad</em>, &#8211; Ayah Kaya, Ayah Miskin.<br />
Ia mengatakan bahwa atas dasar motivasinya dalam mencari nafkah, seseorang dapat dikelompokkan ke dalam salah satu atau mungkin dua kwadran sekaligus, yang masing-masing disebutnya sebagai kelompok pegawai, kelompok pekerja bebas, kelompok pemilik bisnis dan kelompok penanam modal.<br />
Kwadran itu sendiri, sebagaimana Anda pelajari di sekolah, adalah seperempat bagian dari sebuah bidang (bulat, persegi atau lonjong tidak masalah).</p>
<div id="attachment_376" class="wp-caption alignleft" style="width: 219px"><a href="http://lehmannsblog.com/wp-content/uploads/2010/08/Cashflow-Quadrant.jpg"><img class="size-full wp-image-376 " title="Cashflow Quadrant" src="http://lehmannsblog.com/wp-content/uploads/2010/08/Cashflow-Quadrant.jpg" alt="SERBA-SERBI BISNIS INTERNET" width="209" height="209" /></a><p class="wp-caption-text">Cashflow Quadrant</p></div>
<p>Masing-masing kwadran menunjukkan tempat masing-masing kelompok orang dengan diberi notasi E (<em>Employee</em>) bagi kelompok pegawai, S (<em>Self-employed</em>) untuk kelompok pekerja bebas atau pekerja lepas, &#8211; saya lebih suka dengan sebutan &#8220;pekerja mandiri&#8221; -, B (<em>Business Owner</em>) untuk kelompok pemilik bisnis dan I (<em>Investor</em>) bagi kelompok penanam modal, &#8211; lihat ilustrasi. Robert T. Kyosaki membedakan antara kwadran yang berada di sisi kiri dengan yang di sisi kanan. Kelompok kwadran sisi kiri, &#8211; E dan S -, dinilainya sebagai kelompok yang <span id="more-374"></span>lebih mengandalkan pada nafkah yang aman, reguler serta yang menjamin penghasilan secara teratur dan pasti serta tanpa risiko. Kelompok di sisi kiri ini seringkali disebut sebagai &#8220;<em>safety player</em>&#8220;. Sementara kelompok di sisi kanan pada umumnya &#8220;berani&#8221; mengambil risiko dalam menghadapi &#8220;peluang&#8221; yang dijumpainya, sehingga kelompok ini lazim disebut sebagai &#8220;<em>risk taker</em>&#8220;.<br />
Pola pikir (<em>mind set</em>) kelompok kwadran sisi kiri, &#8220;Menanam modal itu berisiko&#8221;. Sementara pola pikir kelompok kwadran sisi kanan, &#8220;Tidak ada bidang usaha atau pekerjaan tanpa risiko&#8221;. Mereka menilai bahwa pegawai pun menghadapi risiko &#8220;dipecat&#8221; dari pekerjaannya, jika pekerjaan atau ethos kerjanya dinilai &#8220;tidak memuaskan&#8221;.<br />
Lebih lanjut, Robert T. Kyosaki menjelaskan bahwa jika Anda berada di kwadran sisi kiri, &#8211; E dan S -, dan ingin memiliki &#8220;kebebasan finansial&#8221;, maka Anda harus bersedia, belajar, berlatih dan berupaya untuk &#8220;menjadi&#8221; orang yang berada di kwadran sisi kanan, &#8211; B dan I -. Konsekuansinya, Anda harus &#8220;mengubah&#8221; pola pikir Anda, yaitu dari pola pikir kwadran sisi kiri (<em>safety player</em>) menjadi pola pikir kwadran sisi kanan (<em>risk taker</em>).<br />
Bagaimana ia membedakan masing-masing kelompok itu satu dengan lainnya antara E, S, B dan I?</p>
<ul>
<li><strong>E (<em>Employee</em>).</strong> Seorang yang berjiwa pegawai selalu akan berupaya agar tetap bekerja (jadi pegawai), karena dinilainya bahwa dengan bekerja ia akan mendapat jaminan penghasilan yang tetap dan pasti, bahkan mungkin ia berharap mendapat &#8220;tunjangan&#8221; lainnya, seperti tunjangan  kesehatan dan hari tua. Kata &#8220;risiko&#8221; akan menimbulkan ketakutan baginya. Rasa aman mambuatnya bahagia. Bagi mereka rasa aman bahkan lebih penting daripada uang. Bukan hal aneh jika mereka mengatakan : &#8220;Aku tidak tertarik pada uang&#8221;.</li>
<li><strong>S (<em>Self-employed</em>).</strong> Mereka ingin menjadi bos mereka sendiri. Sangat independen dalam hal keuangan. Tidak suka jika besarnya penghasilan ditentukan orang lain. Mereka menilai bahwa kerja keras atau keahlian mereka patut dibayar tinggi. Karena itu mereka sadar bahwa tanpa kerja keras dengan sebaik-baiknya, mereka tidak patut dibayar tinggi. Berbeda dengan seorang pegawai, pekerja bebas senantiasa akan berupaya agar &#8220;hasil kerja&#8221;-nya adalah yang terbaik. Bahkan acapkali ia menganggap orang lain tidak se-&#8221;hebat&#8221; dia, karena mereka pada umumnya berjiwa &#8220;perfeksionis&#8221;. Akibatnya, mereka tidak suka mendelegasikan pekerjaannya kepada orang lain, karena dianggapnya tidak ada orang lain yang bisa mengerjakan sesuai dengan kriteria yang ditentukannya. Bagi mereka, uang tidaklah penting, kemandirian dan &#8220;pengakuan&#8221; atas kelebihan mereka dinilai lebih penting daripada uang. Banyak di antara mereka merupakan pekerja &#8220;profesional&#8221; yang berpendidikan tinggi atau lebih tinggi dari rata-rata, seperti dokter, arsitek, akuntan, pengacara, konsultan, namun tidak jarang mereka merupakan pemilik toko eceran (warung), montir, artis dan sejenisnya yang lebih suka &#8220;mandiri&#8221; ketimbang jadi pegawai orang lain. Di Indonesia, banyak di antara artis, &#8211; selaku seorang pekerja bebas (S) -, mengubah dirinya dan berhasil -, menjadi seorang pemilik usaha (B).</li>
<li><strong>B (<em>Business-owner</em>).</strong> Kelompok B berlawanan dengan kelompok S, dalam hal menangani pekerjaan. Kelompok ini lebih suka &#8220;menggunakan&#8221; orang-orang cerdik pandai, &#8211; yang berasal dari keempat kelompok, baik E, S, B, maupun I -, untuk mengerjakan pekerjaannya dengan hasil &#8220;lebih baik&#8221;. Moto kebanyakan dari kelompok ini adalah &#8220;Mengapa saya harus mengerjakan sendiri kalau bisa &#8220;menyewa&#8221; orang lain yang mampu mengerjakannya dengan lebih baik?&#8221;. Pada umumnya seseorang dari kelompok B banyak dikelilingi tenaga kerja ahli untuk masing-masing bidang yang berbeda. Sedangkan dia sendiri lebih suka mengerjakan tugas yang menurutnya &#8220;lebih penting&#8221;, seperti &#8220;berfikir&#8221;, &#8211; tent saja  &#8230; demi kemajuan usahanya.</li>
<li><strong>I (<em>Investor</em>).</strong> Bagi seseorang yang berada di kwadran ini, kata &#8220;risiko&#8221; sangat mungkin menimbulkan &#8220;semangat&#8221; baginya. Ia akan selalu ingat slogan yang menyatakan &#8220;<em>high risk, high income</em>&#8220;. Mata fisik dan mata hatinya senantiasa akan mencari dan menemukan &#8220;peluang investasi&#8221; yang menguntungkannya. Sebagai contoh: Tatkala gelombang krismon melanda Indonesia, dan melihat gejala &#8220;suku bunga yang meningkat pesat&#8221;, ia menginvestasikan uangnya dalam &#8220;deposito&#8221;, tatkala suku bunga menunjukkan gejala menurun, dia hentikan investasi dalam deposito. Selain itu, ia melihat gejala kurs dollar yang meningkat pesat sebagai peluang investasi dalam valuta. Selaku seorang investor, jika dia ingin kaya, dia akan berbuat agar uangnya bekerja untuk dirinya, bukan dia yang bekerja untuk uang.</li>
</ul>
<p>Bagi Anda yang belum termasuk kelompok kwardan sisi kanan, jangan dulu berkecil hati. Memang, untuk mengubah &#8220;pola pikir&#8221; (<em>mind set</em>) kwardan sisi kiri menjadi pola pikir sisi kanan tidak dapat berlangsung secara instan, seperti halnya Anda menginstal program applikasi komputer Anda. Atau secara populer, seperti membalikkan telapak tangan Anda.<br />
Tentu saja Anda memerlukan waktu untuk mengubah pola pikir Anda, terutama mengingat kondisi lingkungan masyarakat kita (di Indonesia) yang belum mendukung pembentukan pola pikir wirausaha. Sejak lahir, Anda terdidik dalam lingkungan yang membentuk pola pikir Anda untuk tidak berani mengambil risiko (<em>risk taking</em>). Berbeda dengan masyarakat Tionghoa, &#8211; di mana pun mereka berada -, lingkungan keluarganya pun sudah bernuansa wirausaha. Tidak usah heran jika mereka banyak yang berhasil dalam bisnis dan keuangan mereka.<br />
Meskipun demikian, tak usah Anda jadikan hal ini sebagai <em>excuse</em> atau alasan untuk tidak mengubah pola pikir Anda, &#8230; jika Anda ingin berhasil. Semangat dan tekad untuk berhasil perlu Anda pertahankan, jika &#8230; memang, Anda ingin berhasil dalam hal bisnis atau keuangan Anda. Nah &#8230;, DI KWADRAN MANA POSISI ANDA?<br />
Di posisi mana pun Anda berada, untuk berwirausaha Anda perlu membekali diri dengan mentalitas dan pola pikir seorang wirausahawan (<em>enterpreneur</em>).</p>
<p>Salam SUKSES. Semoga berhasil.</p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://www.onlywire.com/button" title="ANDA BERJIWA PEGAWAI ATAU BERJIWA INVESTOR?" url="http://lehmannsblog.com/?p=374"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lehmannsblog.com/anda-berjiwa-pegawai-atau-berjiwa-investor.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEBERAPA BESAR HASIL UPAYA ANDA MENUJU SUKSES?</title>
		<link>http://lehmannsblog.com/seberapa-besar-hasil-upaya-anda-menuju-sukses.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=seberapa-besar-hasil-upaya-anda-menuju-sukses</link>
		<comments>http://lehmannsblog.com/seberapa-besar-hasil-upaya-anda-menuju-sukses.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 14:15:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lehmann</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[kerja keras]]></category>
		<category><![CDATA[latihan]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[peran Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[perilaku]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lehmannsblog.com/?p=364</guid>
		<description><![CDATA[Dalam upaya mencapai sukes di bidang apapun, Anda dihadapkan pada beberapa persyaratan (conditions). Acapkali persyaratan itu sekilas terlihat &#8220;mudah&#8221;, tapi dalam kenyataannya tidak semudah tampaknya. Pernahkah Anda terfikir untuk mengukur atau mengkaji hasil upaya Anda untuk mencapai SUKSES? Anda pasti sering mendengar atau membaca bahwa salah satu persyaratan itu adalah KERJA-KERAS (Hard Work), di samping [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam upaya mencapai sukes di bidang apapun, Anda dihadapkan pada beberapa persyaratan (<em>conditions)</em>. Acapkali persyaratan itu sekilas terlihat &#8220;mudah&#8221;, tapi dalam kenyataannya tidak semudah tampaknya. Pernahkah Anda terfikir untuk mengukur atau mengkaji hasil upaya Anda untuk mencapai SUKSES? Anda pasti sering mendengar atau membaca bahwa salah satu persyaratan itu adalah KERJA-KERAS (<em>Hard Work</em>), di samping PENGETAHUAN <em>(Knowledge</em>) dan PERILAKU (<em>Attitude</em>). Hal itu Anda kenal juga dalam dunia pendidikan yang pada dasarnya bertujuan mencetak tenaga kerja yang &#8220;terlatih&#8221;, &#8220;berpengetahuan lebih luas&#8221; dan &#8220;perilaku&#8221;-nya berubah yang menjadikannya &#8220;tenaga kerja profesional&#8221;.<br />
Tapi bagaimana Anda mengukur HASIL kerja-keras Anda dan PERAN pengetahuan dan perilaku Anda dalam hubungan dengan upaya mencapai SUKSES tersebut?<br />
Dalam salah satu <a href="http://lehmannsblog.com/2009/08/antara-impian-motivasi-upaya-dan-sukses">artikel terdahulu,</a> untuk mencapai sukses memerlukan kerja-keras tanpa henti, dan dalam <a href="http://lehmannsblog.com/2009/01/perlunya-membedakan-copywriting-dengan-copywriting">artikel lainnya,</a> cita-cita Anda untuk sukses menjadi &#8220;pelaku terbaik&#8221; <span id="more-364"></span>(<em>best performer</em>), bisa juga dicapai melalui latihan, &#8230; latihan, &#8230; dan &#8230; latihan. Latihan pun tidak serta merta mengubah Anda menjadi orang sukses, melainkan masih tergantung pada perubahan perilaku Anda untuk menjadi orang sukses.<br />
Sukses itu sendiri sangat <a href="http://lehmannsblog.com/2010/03/memilih-topik-blog-anda">subjektif penilaiannya</a>, tergantung pada masing-masing individu Anda. Walau begitu, ada satu hal yang bisa Anda pegang sebagai &#8220;pedoman&#8221;, yaitu SUKSES itu adalah suatu hasil yang memberikan kebahagiaan dan kepuasan &#8220;sesuai harapan Anda&#8221;, yang sangat bersifat kualitatif, sehingga sukar untuk dinilai secara kuantitatif.<br />
Karena penilaian sukses itu bersifat subjektif, maka ukuran hasil kerja-keras pun jadi subjektif, begitu pun halnya dengan penilaian atas peran pengetahuan dan perilaku Anda dalam mencapai sukses itu. Jangan khawatir, ada satu petunjuk kuantitatif, yang minimal dapat Anda jadikan pegangan, &#8230; sekedar pegangan, mengingat petunjuk ini terlihat bagaikan sekedar &#8220;permainan angka&#8221;. Jadi &#8230;, boleh percaya, boleh tidak.</p>
<p><a href="http://lehmannsblog.com/wp-content/uploads/2010/07/TheBeautyOfMathematics.pdf"><img class="alignleft size-full wp-image-365" title="The Beauty of Mathematics and the Love of God" src="http://lehmannsblog.com/wp-content/uploads/2010/07/theBeautyofMath-e-cover.png" alt="SERBA-SERBI BISNIS INTERNET" width="244" height="268" /></a>Anda dapat melihatnya dari tulisan terlampir dalam format pdf (<em>e-book</em>) yang aslinya diperoleh dalam bentuk email dari <em>maillist-group</em> di mana saya menjadi anggota.<br />
Tulisan itu aslinya berjudul <a href="http://lehmannsblog.com/wp-content/uploads/2010/07/TheBeautyOfMathematics.pdf">The Beauty Of Mathematics and the Love Of God</a>. Silahkan lihat dulu &#8230; Nah &#8230;, Selamat Menikmati. Jadi &#8230;, Di samping KERJA KERAS, PENGETAHUAN dan PERILAKU, &#8230; ada PERAN KASIH SAYANG TUHAN dalam pencapaian Sukses Anda. Kesimpulan Anda?</p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://www.onlywire.com/button" title="SEBERAPA BESAR HASIL UPAYA ANDA MENUJU SUKSES?" url="http://lehmannsblog.com/?p=364"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lehmannsblog.com/seberapa-besar-hasil-upaya-anda-menuju-sukses.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KEBERHASILAN ANDA TIDAK TERGANTUNG PADA NASIB ANDA</title>
		<link>http://lehmannsblog.com/keberhasilan-anda-tidak-tergantung-pada-nasib-anda.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=keberhasilan-anda-tidak-tergantung-pada-nasib-anda</link>
		<comments>http://lehmannsblog.com/keberhasilan-anda-tidak-tergantung-pada-nasib-anda.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 09:32:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lehmann</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[berjuang]]></category>
		<category><![CDATA[berusaha]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis internet]]></category>
		<category><![CDATA[kerja keras]]></category>
		<category><![CDATA[nasib]]></category>
		<category><![CDATA[nasib dan usaha]]></category>
		<category><![CDATA[sungguh-sungguh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lehmannsblog.com/?p=351</guid>
		<description><![CDATA[Ya! &#8230; Keberhasilan Anda Tidak Tergantung hanya pada Nasib Anda, &#8230; melainkan juga pada Usaha Anda. Suatu saat saya membaca email dari teman maillist yang mengisahkan keberhasilan seorang pengusaha di bawah judul: &#8220;Nasib dan Usaha&#8221; Saya berfikir, ada baiknya kisah itu disebarkan kepada teman-teman lainnya, mengingat isinya yang mengandung &#8220;pelajaran&#8221; yang sangat berharga. Adapun kisahnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya! &#8230; <strong>Keberhasilan</strong> Anda Tidak Tergantung <strong>hanya</strong> pada <strong>Nasib</strong> Anda, &#8230; melainkan <strong>juga</strong> pada <strong>Usaha</strong> Anda.</p>
<p>Suatu saat saya membaca email dari teman maillist yang mengisahkan keberhasilan seorang pengusaha di bawah judul: &#8220;<strong>Nasib dan Usaha</strong>&#8221;</p>
<p>Saya berfikir, ada baiknya kisah itu disebarkan kepada teman-teman lainnya, mengingat isinya yang mengandung &#8220;pelajaran&#8221; yang sangat berharga. Adapun kisahnya seperti di bawah ini.</p>
<p><strong>NASIB DAN USAHA</strong> (Seperti dikisahkan oleh Beben)</p>
<p>Kisah seorang konglomerat dan pengusaha kaya dan menurut banyak pihak, kekayaan itu diperoleh benar2 dari nol. Karena itu, apa yg dilakukannya mampu menginspirasi banyak orang.</p>
<p>Suatu ketika, ada seorang pemuda ingin belajar, menimba pengalaman dari sang pengusaha tersebut. Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya sang pemuda berhasil menemui si pengusaha sukses.</p>
<p>&#8220;Terimakasih Bapak mau menerima saya. Terus terang saya sangat ingin <span id="more-351"></span>menimba pengalaman dari Bapak sehingga bisa sukses seperti Bapak,&#8221; ujar pemuda itu.</p>
<p>Mendengar permintaan itu, sang pengusaha tersenyum sejenak. Kemudian, ia pun meminta anak muda tadi menengadahkan tangannya. Si pemuda pun terheran-heran, lalu si pengusahapun menjelaskan maksudnya.<br />
&#8220;Biar aku lihat garis tanganmu dan, simaklah baik-baik apa pendapatku tentangmu sebelum aku memberikan pelajaran seperti yg kamu minta,&#8221; jawab pengusaha tersebut.<br />
Setelah pemuda itu menengadahkan kedua tangannya, si pengusaha pun berkata, &#8220;Lihatlah telapak tanganmu ini. Disini ada beberapa garis utama yang menentukan nasib. Di sana ada garis kehidupan. Kemudian, disini ada garis rezeki dan ada pula garis jodoh.</p>
<p>&#8220;Sekarang, menggenggamlah. Di mana semua garis tadi?&#8221;<br />
&#8220;Di dalam telapak tangan yg saya genggam.&#8221; Jawab si pemuda yg penasaran.<br />
&#8220;Nah, apa artinya itu? Hal itu mengandung arti, bahwa apapun takdir dan keadaanmu kelak, semua itu ada dalam genggamanmu sendiri. Kamu lihat bukan? Bahwa semua garis tadi ada di tanganmu.</p>
<p>&#8220;Dan, begitulah rahasia suksesku selama ini. Aku <strong>berjuang</strong> dan <strong>berusaha</strong> dengan berbagai cara untuk menentukan nasibku sendiri,&#8221; terang si pengusaha.<br />
&#8220;Tetapi coba lihat pula genggamanmu. Bukankah masih ada garis yang tidak ikut tergenggam? Sisa garis itulah yang berada di luar kendalimu. Karena &#8230; di sanalah letak kekuatan Sang Maha Pencipta yang tidak akan mampu kita lakukan , &#8211; <strong>nasib</strong> -,an itulah bagianNya Tuhan.</p>
<p><strong>Genggam dan lakukan bagianmu dengan <a href="http://www.jokosusilo.com/2008/01/25/affiliate-program-kunci-sukses-bisnis-internet">kerja keras dan sungguh-sungguh</a></strong>, <strong>dan bawalah kepada Tuhan bagian yang tidak mampu engkau lakukan..!</strong></p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://www.onlywire.com/button" title="KEBERHASILAN ANDA TIDAK TERGANTUNG PADA NASIB ANDA" url="http://lehmannsblog.com/?p=351"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lehmannsblog.com/keberhasilan-anda-tidak-tergantung-pada-nasib-anda.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MEMILIH TOPIK BLOG ANDA</title>
		<link>http://lehmannsblog.com/memilih-topik-blog-anda.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=memilih-topik-blog-anda</link>
		<comments>http://lehmannsblog.com/memilih-topik-blog-anda.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Mar 2010 15:37:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lehmann</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[copywriting]]></category>
		<category><![CDATA[formulabisnis]]></category>
		<category><![CDATA[jokosusilo]]></category>
		<category><![CDATA[keberhasilan]]></category>
		<category><![CDATA[pembaca]]></category>
		<category><![CDATA[pengunjung]]></category>
		<category><![CDATA[penjualan]]></category>
		<category><![CDATA[smuo]]></category>
		<category><![CDATA[topik blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lehmannsblog.com/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[Pilihlah Topik Blog Anda Agar Berhasil. Keberhasilan blog Anda merupakan hasil jerih payah serta pengorbanan atas waktu dan upaya Anda. Apa tolok ukur keberhasilan bagi Anda? Tiap orang mempunyai tolok ukur yang berbeda mengenai keberhasilan, tergantung pada &#8220;Apa yang menjadi harapan Anda pada saat memulai kegiatan blogging&#8221;, bahkan sebelumnya lagi. Minimal pemilik blog mengharapkan blognya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pilihlah Topik Blog Anda Agar Berhasil.</strong></p>
<p>Keberhasilan blog Anda merupakan hasil jerih payah serta pengorbanan atas waktu dan upaya Anda.<br />
<em>Apa tolok ukur keberhasilan bagi Anda?</em><br />
Tiap orang mempunyai tolok ukur yang berbeda mengenai keberhasilan, tergantung pada &#8220;Apa yang menjadi harapan Anda pada saat memulai kegiatan blogging&#8221;, bahkan sebelumnya lagi. Minimal pemilik blog mengharapkan blognya banyak pengunjung dan pembacanya, dan tentu saja jika blog itu berkaitan dengan bisnis, maka <a href="http://lehmannsblog.com/2009/01/tujuan-copywriting-adalah-meningkatkan-penjualan">&#8220;penjualan&#8221;</a> juga bisa menjadi tolok ukur keberhasilan blog Anda.<br />
Agar blog Anda berhasil ada beberapa tip yang dapat Anda ikuti dalam memilih topik yang akan Anda sampaikan dalam blog yang Anda harapkan akan membawa Anda ke jalur menuju tercapainya tujuan blogging Anda.</p>
<ol>
<li><strong>Topik yang Anda pilih harus menyangkut hal yang Anda sukai.</strong><br />
Jika Anda menyukai suatu topik, sudah pasti Anda akan senang hati meng-update blog Anda setiap saat. Blog yang di-update beberapa kali dalam sehari akan dengan mudah mencapai sukses. Jika blog Anda berada dalam jalur sukses, Anda perlu memelihara isi blog Anda selalu &#8220;baru&#8221; yang berarti Anda perlu meng-update blog Anda secara konsisten. Anda dapat melihat blog jokosusilo yang selalu menampilkan topik-topik baru dalam tempo yang singkat, kadang sehari dijumpai dua topik baru, paling sedikit tiap dua hari ada topik baru. Yakinkan diri Anda bahwa topik yang Anda pilih merupakan <span id="more-340"></span>topik yang Anda rasakan sangat suka untuk menulisnya. Jika tidak, Anda akan merasa bosan dan tidak bersemangat menuliskannya. Tapi jangan lupa, &#8230; topik yang Anda sukai pun harus &#8220;disukai&#8221; pembacanya. Jadi pilihlah topik yang Anda rasakan akan Anda senangi untuk menulisnya serta disukai banyak orang &#8211; untuk jangka waktu yang lama, kalaupun tidak untuk selamanya.</li>
<li><strong>Pilihlah topik yang Anda suka untuk membahasnya dengan orang lain.</strong><br />
Dalam hubungan ini blog yang sukses mempersyaratkan adanya komunikasi dua-arah, yaitu antara Anda (selaku blogger) dengan para pembaca blog Anda. Jika pembaca blog Anda memberi komentar atas blog Anda atau mengirim email untuk membahasnya lebih lanjut, Anda harus bersikap responsif dan menyambut mereka. Lagi-lagi, ingin saya mengacu pada blognya jokosusilo, yang berhasil &#8220;menarik&#8221; ratusan ribu penggemar dari komunitas blogger, bukan hanya anggota formulabisnis saja, melainkan yang bukan anggota pun ikut terlibat. Jadi ternyata, komunitas yang Anda ciptakan merupakan kunci ke jalan sukses blog Anda.</li>
<li><strong>Topik yang Anda pilih pun harus Anda rela untuk diperdebatkan dengan orang lain.</strong><br />
Jika blog Anda berkembang, maka semakin banyak orang yang mendatanginya. Anda harus ingat bahwa para pengunjung blog Anda terdiri dari berbagai kalangan dengan berbagai pendapat. Di antara mereka ada saja yang tidak setuju atas apa yang Anda tulis. Masih merupakan pengamatan saya atas blog jokosusilo, membuktikan bahwa diskusi tentang topik yang ditulisnya serta perdebatan yang &#8220;sehat&#8221; membawanya ke jenjang sukses.</li>
<li><strong>Janganlah memilih Topik tentang hal yang Anda sendiri merasa sensitif.</strong><br />
Ketika blog Anda semakin berkembang, dan semakin banyak pengunjungnya, tidak mustahil ada saja pengunjung yang bukan sekedar &#8220;tidak setuju&#8221; melainkan bersifat &#8220;menentang keras&#8221; sehingga boleh jadi Anda diserangnya secara pribadi. Saya teringat, suatu ketika blog jokosusilo tidak luput dari &#8220;cacian&#8221; dan pendapat negatif. Namun, Sang Guru tetap bersikap DINGIN dan mengatasinya dengan jawaban bijaksana yang tidak mempertajam suasana. Agaknya untuk bersikap seperti itu, Anda perlu memiliki hati yang dingin, otak yang jernih &#8230; dan &#8230; tebal kulit muka (rai gedek, Jawa).</li>
<li><strong>Topik Anda pun harus merupakan hal yang Anda rasakan suka untuk menelitinya.</strong><br />
Agar blog Anda mencapai sukses, Anda perlu meng-update diri dengan berita, peristiwa dan informasi yang mutakhir tentang topik yang Anda tulis. Dalam suasana dan situasi perkembangan teknologi informasi seperti sekarang ini, perubahan informasi demikian cepatnya, sehingga Anda perlu banyak membaca tentang berbagai topik yang menarik. Salah satu aspek yang unik dari blog adalah kemampuannya untuk menyajikan <strong>informasi yang segar</strong>, <strong>isi yang berguna</strong>, serta <strong>diskusi tentang berbagai topik</strong> yang bervariasi. Dengan demikian blog Anda akan mampu menyajikan informasi yang selalu baru dan relevan bagi pembaca Anda, seperti yang dilakukan juga oleh Guru Blogger Joko Susilo yang baru-baru ini menyajikan berbagai trik baru tentang &#8220;pemanfaatan&#8221; Facebook untuk jejaring Reseller.</li>
</ol>
<p>Informasi dan petunjuk yang senada seperti di atas, juga dapat Anda baca di blog <a href="http://www.jokosusilo.com">jokosusilo.com</a> serta dalam Buku-Elektronik (e-book) <strong>SMUO</strong> (Sistem  Mesin Uang Otomatis) yang bisa Anda peroleh jika Anda mendaftar sebagai anggota <a href="http://www.formulabisnis.com">Formulabisnis.com</a></p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://www.onlywire.com/button" title="MEMILIH TOPIK BLOG ANDA" url="http://lehmannsblog.com/?p=340"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lehmannsblog.com/memilih-topik-blog-anda.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PERLUNYA NIAT, TEKAD DAN UPAYA UNTUK MENCAPAI PERUBAHAN</title>
		<link>http://lehmannsblog.com/perlunya-niat-tekad-dan-upaya-untuk-mencapai-perubahan.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=perlunya-niat-tekad-dan-upaya-untuk-mencapai-perubahan</link>
		<comments>http://lehmannsblog.com/perlunya-niat-tekad-dan-upaya-untuk-mencapai-perubahan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 15:34:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lehmann</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[niat]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan diri]]></category>
		<category><![CDATA[tekad]]></category>
		<category><![CDATA[upaya]]></category>
		<category><![CDATA[upaya tanpa henti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lehmannsblog.com/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[Banyak di antara Anda yang ingin melakukan perubahan diri untuk sukses. Namun lingkungan membuat Anda tidak berbuat apa pun untuk berubah. Artikel ini mengisahkan tentang “perlunya niat, tekad (internal motivation) dan upaya” atau “action” untuk mencapai suatu perubahan bagi kepentingan diri sendiri dan/atau bagi kaumnya.  Inilah kisahnya &#8230;  Selamat menikmati. KISAH SANG ELANG Seorang petani [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak di antara Anda yang ingin melakukan perubahan diri untuk <a href="http://lehmannsblog.com/2009/03/anda-ingin-sukses">sukses</a>. Namun lingkungan membuat Anda tidak berbuat apa pun untuk berubah. Artikel ini mengisahkan tentang “perlunya niat, tekad (<em>internal motivation</em>) dan <a href="http://lehmannsblog.com/2009/08/antara-impian-motivasi-upaya-dan-sukses">upaya</a>” atau “<a href="http://lehmannsblog.com/2009/05/action-maju-selangkah-mundur-dua-langkah">action</a>” untuk mencapai suatu perubahan bagi kepentingan diri sendiri dan/atau bagi kaumnya.  Inilah kisahnya &#8230;  Selamat menikmati.</p>
<h3>KISAH SANG ELANG</h3>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-282" title="Kisah Sang Elang" src="http://lehmannsblog.com/wp-content/uploads/2009/11/elang1.jpg" alt="SERBA-SERBI BISNIS INTERNET" width="150" height="113" />Seorang petani menemukan sebuah telur di sawahnya, dan ternyata telur yang ditemukannya itu adalah telur seekor elang. Namun si petani tersebut tidak menyadarinya.</p>
<p>Wah..lumayan nih dapet sebutir telur , bisa untuk tambahan menu makanan hari ini, pikir si petani. Sesampainya di rumah, petani tersebut urung melakukan niatnya, melihat bentuk telur itu yang agak besar dan berbeda dengan telur ayam biasanya.</p>
<p>Akhirnya si petani tersebut menaruh telur elang tersebut di kandang seekor ayam betina di belakang rumahnya untuk di erami.</p>
<p>Hari berganti hari, dan akhirnya telur elang itupun menetas bersama dengan telur- telur ayam lainnya. Masa kanak-kanak elang tersebut dihabiskan dengan anak-anak ayam yang lain. Dan akhirnya tingkah elang tersebut pun seperti layaknya ayam yang lain.</p>
<p>Si anak elang menjalani kehidupannya seperti ayam, seperti yang dilakukan sang saudara tirinya, mencari cacing,bermain dengan ayam-ayam.</p>
<p>Sehingga suatu saat dia melihat ada seekor elang terbang diatas mereka, sang anak elang pun terpana melihat elang tersebut terbang bebas diangkasa. “Wah enak ya si elang bisa terbang bebas”, kata si anak elang tersebut. ”Jangan mimpi deh, kamu kan ayam nggak bisa terbang seperti mereka”, kata saudara tiri si elang tersebut.</p>
<p>Anak elang tersebut tumbuh dewasa. Badannya semakin tegar, sayapnya <span id="more-281"></span>semakin kokoh-kuat, paruhnya semakin tajam, dan kakinya semakin mencengkram. Tapi dia masih saja bertingkah seperti ayam. Dia tidak berani untuk mengepakkan sayapnya, hanya bersedih melihat dirinya berbeda dengan ayam-ayam lainnya dan hanya bisa memandang ke langit memperhatikan burung-burung lain yang terbang. Hingga akhirnya si elang itupun mati tanpa ia bisa mengepakkan sayapnya dan terbang tinggi di angkasa.</p>
<p>—————————-</p>
<p>Sebuah pelajaran yang berharga dari cerita di atas. Diibaratkan, diri kita adalah seekor elang yang sebetulnya mampu untuk terbang, melayang tinggi, dan bermain di angkasa. Hanya tinggal kemauan untuk mencoba mengepakkan sayap, maka kita akan bisa terbang bersama burung-burung yang lain dan malah bisa lebih tinggi kalau kita menyadari bahwa diri kita memiliki kelebihan dan kekuatan untuk melakukan hal itu.</p>
<p>Tapi sayang, kadang-kadang mental kita masih berada jauh dari impian, masih berkutat di dalam lingkungan yang sempit, kuno, dan tidak mau berubah seperti eleng tadi. Untuk keluar mencoba melakukan sesuatu hal yang baru masih belum bisa dan tidak berani melakukannya. Kita masih terkondisikan oleh lingkungan, tanpa mau tahu sebetulnya kita juga bisa menciptakan kondisi lingkungan.</p>
<p>Memang berat menjadi seekor elang di lingkungan ayam, karena memang sudah menjadi kebiasaan, menjadi sebuah tabiat, semua dilakukan atas asas tradisi. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba, tidak ada salahnya untuk bisa berubah. Hidup adalah sebuah alur yang tidak selalu lurus. Ia bergerak dinamis mengikuti arah perkembangan jaman.</p>
<p>Banyak rintangan dan hambatan menjadikan sebuah pelajaran buat kita tuk bisa menghadapinya. Kesabaran tuk belajar mengepakkan sayap secara perlahan-lahan tapi pasti akan menunjukkan jati diri bahwa kita adalah manusia yang diciptakan oleh Allah secara sempurna yang diberikan akal untuk berpikir, tuk bertahan hidup, dan juga tuk bisa merasakan setiap perbedaan dengan perubahan.</p>
<p><strong><em>Artikel ini dapat disajikan berkat kerjasama sharing dengan </em></strong><strong><em><a title="BERBAGI INSPIRASI &amp; MOTIVASI" href="http://irmasustikablogspotcom.blogspot.com">Irma Sustika</a></em></strong><strong><em> diiringi penghargaan dan terima kasih. Semoga dapat memberikan inspirasi dan motivasi bagi banyak pembaca yang ingin melakukan perubahan diri.</em></strong></p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://www.onlywire.com/button" title="PERLUNYA NIAT, TEKAD DAN UPAYA UNTUK MENCAPAI PERUBAHAN" url="http://lehmannsblog.com/?p=281"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lehmannsblog.com/perlunya-niat-tekad-dan-upaya-untuk-mencapai-perubahan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENTINGNYA BERPIKIRAN POSITIF DALAM BERBISNIS</title>
		<link>http://lehmannsblog.com/pentingnya-berpikiran-positif-dalam-berbisnis.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=pentingnya-berpikiran-positif-dalam-berbisnis</link>
		<comments>http://lehmannsblog.com/pentingnya-berpikiran-positif-dalam-berbisnis.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 14:54:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lehmann</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[berpikiran negatif]]></category>
		<category><![CDATA[berpikiran positif]]></category>
		<category><![CDATA[formulabisnis]]></category>
		<category><![CDATA[joko susilo]]></category>
		<category><![CDATA[negative thinking]]></category>
		<category><![CDATA[positive thnking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lehmannsblog.com/stop-dreaming-start-action-kontes-seo-jokosusilo/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita menjumpai berbagai tipe orang. Banyak di antaranya yang selalu berpikiran negatif (negative thinking), yang hampir tidak pernah menilai segala sesuatu dari sisi positif, baru setelah mendapat &#8220;keyakinan&#8221; yang mungkin diperolehnya dari &#8220;guru&#8221;-nya, teman sekerja, istrinya, bahkan mungkin dari mertuanya, dia berani bertindak (action). Namun, tidak sedikit pula orang yang berpikiran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita menjumpai berbagai tipe orang. Banyak di antaranya yang selalu berpikiran negatif (negative thinking), yang hampir tidak pernah menilai segala sesuatu dari sisi positif, baru setelah mendapat &#8220;keyakinan&#8221; yang mungkin diperolehnya dari &#8220;guru&#8221;-nya, teman sekerja, istrinya, bahkan mungkin dari mertuanya, dia berani bertindak (action). Namun, tidak sedikit pula orang yang berpikiran positif (positive thinking) yang kita kenal.<br />
Di dalam melakukan bisnis, &#8211; baik bisnis offline maupun online, berpikiran positif lazimnya dinilai lebih baik daripada berpikiran negatif. Harus kita akui, sebenarnya banyak pelaku bisnis yang berhasil berasal dari kelompok yang berpikiran negatif. Sebaliknya, pelaku bisnis yang berpikiran positif tidak semuanya berhasil. Banyak terdengar pelaku bisnis yang jatuh bangun karena nalurinya yang terlampau banyak dipengaruhi oleh pikiran positifnya, <span id="more-196"></span>sehingga melupakan sisi risiko yang mungkin terjadi. Kedua hal sama-sama mungkin terjadi.</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-200" title="Kadar Pemikiran Positif-Negatif" src="http://lehmannsblog.com/wp-content/uploads/2009/08/KadarPemikiran-300x266.gif" alt="Kadar Pemikiran Positif-Negatif" width="300" height="266" />Logikanya begini&#8230; Di dalam diri setiap orang bersarang kedua pikiran itu, namun kadarnya berbeda-beda. Ada yang kadar pikiran negatifnya hanya 10%, 25%, 30%, 40% 50% dan seterusnya. Sama halnya pikiran positive yang kadarnya bisa berbeda juga dari seorang dengan yang lainnya (lihat diagram ilustrasi), di antara keduanya tentu ada juga yang relatif berimbang, 50%-50% antara pikiran positif dan negatifnya.<br />
Mungkin Anda pernah mengalaminya, ketika melihat Iklan Bisnis Internet Anda berprasangka negatif, jangan-jangan penipuan &#8230; , jangan-jangan cuma janji &#8230; dsb &#8230; dsb. Tapi lihatlah <a href="http://formulabisnis-joss.co.cc">Bisnis Internet yang terbukti berhasil</a> dan <img class="alignleft size-full wp-image-206" title="Kantor Baru FormulaBisnis.com" src="http://lehmannsblog.com/wp-content/uploads/2009/08/muka-kantor-150x150.jpg" alt="Kantor Baru FormulaBisnis.com" width="150" height="150" />teruji baru saja <a href="http://jokosusilo.com/2009/08/21/joko-susilo-pindah-kantor-baru">pindah kantor baru</a> sebagai bukti keberhasilan Bisnis Internet, jika benar-benar ditekuni dengan kesabaran dan kesungguhan, dan tentu saja disertai dengan &#8220;harapan positif&#8221; (sukses).<br />
Mengenai hal ini ada cerita menuturkan soal &#8220;berpikiran positif&#8221;  (positive thinking) yang membawa bisnis menuju  sukses.</p>
<p>Sebuah pabrik sepatu bermaksud membuka cabang usaha di salah satu negara Afrika. Untuk mendapat informasi peluang pasarnya, sang Direktur mengirim staffnya untuk melakukan pengamatan dan penelitian tentang hal itu. Pendek cerita, staffnya sudah kembali ke kantor pusat pabrik sepatu itu dan melapor kepada sang Direktur, terjadilah dialog seperti berikut.<br />
Direktur : Nah, bagaimana hasil pengamatanmu mengenai peluang bisnis kita di sana?<br />
Staf          : Maaf pak. Tapi sebaiknya tidak usah buka cabang usaha di sana, pak. Tidak ada peluang.<br />
Direktur : Kamu yakin?<br />
Staf          : 100% yakin, pak?<br />
Direktur : Apa yang membuat kamu 100% yakin?<br />
Staf          : Penduduk di sana semua tidak pakai sepatu, pak. Nggak ada yang perlu sepatu.<br />
Direktur : Oh, baiklah kalau begitu.<br />
Diam-diam sang Direktur tidak merasa yakin dan kurang puas dengan hasil pengamatan stafnya dan mengirim staf ke-2 ke negara itu dengan tugas yang sama, mengamati dan meneliti peluang pasar. Pada malam pertama staf tersebut berada di negara itu, dia menghubungi direkturnya dan inilah dialognya.<br />
Direktur : Ada apa kamu, kok baru malam pertama sudah menghubungi saya?<br />
Staf          : Begini, pak. Ternyata untuk membuka cabang usaha di sini peluangnya sangat besar, pak.<br />
Direktur : Lho kok &#8230;, bagaimana bisa begitu?<br />
Staf          : Semua penduduk di sini  belum punya sepatu.<br />
Direktur : Oh, baik kalau begitu. Kesempatan pertama besok, kamu segera pulang.<br />
Tidak lama kemudian dibukalah cabang usaha sepatunya di negara tersebut dan &#8230; staf ke-2 itulah yang menjadi pemimpinnya.<br />
Cerita ini menyampaikan pesan betapa pentingnya &#8220;pikiran positif&#8221; dalam berbisnis.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan posisi Anda? Positif &gt;50%, atau Negatif &gt;50%?</strong></p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://www.onlywire.com/button" title="PENTINGNYA BERPIKIRAN POSITIF DALAM BERBISNIS" url="http://lehmannsblog.com/stop-dreaming-start-action-kontes-seo-jokosusilo/?p=196"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lehmannsblog.com/pentingnya-berpikiran-positif-dalam-berbisnis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ANTARA IMPIAN, MOTIVASI, UPAYA DAN SUKSES</title>
		<link>http://lehmannsblog.com/antara-impian-motivasi-upaya-dan-sukses.html?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=antara-impian-motivasi-upaya-dan-sukses</link>
		<comments>http://lehmannsblog.com/antara-impian-motivasi-upaya-dan-sukses.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2009 05:55:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lehmann</dc:creator>
				<category><![CDATA[Enterpreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[action]]></category>
		<category><![CDATA[dreaming]]></category>
		<category><![CDATA[joko susilo]]></category>
		<category><![CDATA[kerja keras]]></category>
		<category><![CDATA[keyword]]></category>
		<category><![CDATA[kontes]]></category>
		<category><![CDATA[seo]]></category>
		<category><![CDATA[start]]></category>
		<category><![CDATA[stop]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[upaya tanpa henti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lehmannsblog.com/stop-dreaming-start-action-kontes-seo-jokosusilo/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[STOP DREAMING START ACTION &#8230; and &#8230; KEEP ON YOUR ACTIONS ROLLING !!! Semakin dalam Anda menekuni Bisnis, Anda akan semakin yakin bahwa SUKSES itu perlu &#8211; bahkan harus &#8211; dicapai dengan UPAYA TANPA HENTI. Tanpa upaya keras, sulit &#8211; bahkan mustahil &#8211; sukses dapat tercapai. Di samping itu, untuk UPAYA TANPA HENTI perlu &#8211; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>STOP DREAMING START ACTION &#8230; and &#8230; KEEP ON YOUR ACTIONS ROLLING !!!</strong><br />
<img class="alignright size-full wp-image-193" title="KEEP ON YOUR ACTIONS ROLLING" src="http://lehmannsblog.com/wp-content/uploads/2009/08/AG00160_.GIF" alt="KEEP ON YOUR ACTIONS ROLLING" width="95" height="96" />Semakin dalam Anda menekuni Bisnis, Anda akan semakin yakin bahwa SUKSES itu perlu &#8211; bahkan harus &#8211; dicapai dengan UPAYA TANPA HENTI. Tanpa upaya keras, sulit &#8211; bahkan mustahil &#8211; sukses dapat tercapai.<br />
Di samping itu, untuk UPAYA TANPA HENTI perlu &#8211; bahkan HARUS ada motivasi, &#8211; baik dari dalam (<em>internal</em>) seperti angan-angan, impian, cita-cita atau obsessi dan semangat -, maupun dari luar (<em>external</em>), &#8211; dari bangku sekolah/kuliah, bacaan (buku, koran, majalah, blog dsb.), atau pengalaman orang lain.<br />
Di bawah ini, saya sampaikan sebuah cerita mengenai UPAYA TANPA HENTI yang berakhir SUKSES. Cerita ini sudah sering disampaikan oleh banyak <span id="more-192"></span>orang, bahkan banyak juga yang sudah menulisnya. Mungkin Anda sudah pernah mendengar atau membaca cerita ini, yaitu tentang dua  Suku A dan B yang desanya mengalami kekeringan karena musim kering yang berkepanjangan.<br />
Pendek cerita, kedua penduduk Desa Suku itu mengadakan upacara memohon hujan dengan cara menari-nari sebagaimana lazimnya adat dan kepercayaan mereka masing-masing.<br />
Setelah beberapa hari dilakukan upacara itu, suku A sudah merasa tidak berhasil sehingga menghentikan upacara tariannya dan menugaskan &#8220;pionir&#8221; untuk &#8220;mengintip&#8221; apa yang dikerjakan suku B, karena menurut berita, &#8211; tidak resmi -, di desa suku B berhasil turun hujan. Ternyata berita itu benar, masyarakat suku desa B melakukan upacara tarian itu sehingga menghasilkan hujan.<br />
Maka kembalilah pionir suku A ke desanya dan melaporkan bahwa berita itu benar, di desa B berhasil turun hujan setelah upacara yang sama seperti yang dilakukan oleh suku A.<br />
Akhirnya kepala suku A memutuskan untuk melakukan lagi upacara &#8230; Satu jam, dua jam &#8230; sehari, dua hari &#8230; seminggu, dua minggu &#8230; belum juga berhasil turun hujan. Masyarakat suku A mulai lagi merasa putus asa dan mengusulkan kepada kepala suku untuk menghentikan upacara &#8230; Suku A akhirnya menyerah, dan pergilah Kepala Suku A itu berkunjung ke desa Suku B.<br />
Dalam kesempatan itu dengan berat hati dan malu-malu, Kepala Suku A menanyakan bagaimana caranya bisa mendatangkan hujan dengan upacara yang dilakukannya, sedangkan di desanya (Suku A) dengan melakukan upacara yang sama tidak juga turun hujan. Maka terjadilah dialog seperti di bawah ini.<br />
Kepala Suku B (KS-B) bertanya: &#8220;Berapa hari kalian melakukan upacara itu?&#8221;<br />
Kepala Suku A (KS-A) menjawab dengan semangat: &#8220;Dua Minggu, pak&#8221;.<br />
KS-B: &#8220;Lantas, setelah dua minggu kalian menghentikan upacara?<br />
KS-A: &#8220;Betul, pak&#8221;.<br />
KS-B: &#8220;Nah, itulah bedanya &#8230; dengan yang kami lakukan&#8221;.<br />
KS-A: &#8220;Apa bedanya, pak?&#8221;.<br />
KS-B: &#8220;Kami tidak menghentikan upacara setelah dua minggu, karena belum turun hujan&#8221;.<br />
KS-A: &#8220;Lantas &#8230;?&#8221;<br />
KS-B: &#8220;Kami baru menghentikan upacara setelah &#8230; terjadi turun hujan&#8221;.<br />
KS-A: &#8220;Oooooo&#8230;!&#8221;<br />
Apa yang dapat kita tarik pelajaran dari PESAN yang terkandung dalam cerita di atas sangat sesuai dengan semangat <em>Stop Dreaming Start Action</em>, dan artikel saya terdahulu yang diterbitkan untuk Kontes SEO Joko Susilo, &#8220;KEEP ON YOUR ACTION ROLLING TILL YOUR DREAMS COME TRUE&#8221; yang pesannya memotivasi semangat  &#8220;Action Terus Sampai Berhasil&#8221; seperti yang dianjurkan Joko Susilo dalam artikelnya &#8220;<a href="http://www.jokosusilo.com/2009/03/16/5-hal-yang-melejitkan-orang-orang-menjadi-sukses">5-Hal Yang Melejitkan Orang-orang Menjadi Sukses&#8221;</a>, di mana KERJA KERAS merupakan salah satu dari 5-Hal tersebut.<br />
Yang seringkali dilakukan orang adalah melupakan impiannya setelah gagal sekali, gagal duakali, &#8230; atau gagal ketiga kalinya.  Putus asa &#8230; dan &#8230; frustrasi. Padahal kalau upaya Anda dilanjutkan tanpa henti (action &#8230; and keep on action) sampai impian terwujud, maka Insya Allah, cepat atau lambat Anda dapatkan Impian Anda.<br />
Ilmu manajemen mengajarkan: &#8220;Tidak ada yang salah dengan kerja keras. Yang salah adalah kerja keras tanpa efisiensi dan efektivitas&#8221;&#8230; ?!? Effisiensi dan Effektivitas menghasilkan Produktivitas &#8230; menuju KEBERHASILAN &#8230; alias &#8230; SUKSES. Tapi kita perlu juga ingat, bahwa meskipun sudah sukses, upaya pun harus selalu dilakukan agar sukses pertama menghasilkan sukses berikutnya. &#8230; Setuju?</p>
<p><strong>Salam Action, Tetap Semangat !</strong></p>
<script type="text/javascript" class="owbutton" src="http://www.onlywire.com/button" title="ANTARA IMPIAN, MOTIVASI, UPAYA DAN SUKSES" url="http://lehmannsblog.com/stop-dreaming-start-action-kontes-seo-jokosusilo/?p=192"></script>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lehmannsblog.com/antara-impian-motivasi-upaya-dan-sukses.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

