MENGGALI ILMU MENDULANG UANG


Bukan Cinta Sembarang Cinta

Motivasi

“Seorang yang bekerja dengan cinta akan selalu berusaha menghasilkan yang terbaik” (Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Hidayatullah – SINDO, 1 Februari 2013)

Bekerja Penuh CintaMaksudnya di sini, bukan orang yang sedang dilanda cinta yang berusaha menghasilkan yang terbaik, meskipun ada benarnya seorang yang mabuk cinta acapkali “termotivasi” untuk berprestasi guna menunjukkan keunggulannya kepada pacarnya.

Dalam tulisannya yang diberi judul “Working With Passion” prof Komaruddin Hidayat a.l. menyatakan:
… Coba saja amati suasana kerja dalam lingkungan terdekat, entah kantor, keluarga, pabrik, proyek bangunan, dan seterusnya. Siapa yang melakukannya dengan cinta, energinya takkan habis-habis. Mereka bekerja dengan antusias bahkan sering melebihi waktu yang dijadwalkan (komentar: dari sinilah timbulnya istilah “workaholic” bagi orang yang keranjingan kerja bagaikan “kecanduan”, namun seringkali disebut juga sebagai memiliki ethos kerja yang baik). Menurutnya lebih lanjut, … di lingkungan perkantoran yang mayoritas karyawannya memiliki kesesuaian antara minat, bakat dan jabatan, seseorang akan bekerja dengan rasa bahagia dan oleh karenanya akan membuat mereka bekerja dengan cinta. Dikatakannya lagi dengan contoh: Seorang koki profesional akan merasa bahagia jika melihat pelanggan restorannya merasa puas dengan masakan yang disajikannya. Seorang sopir yang cinta pekerjaannya akan selalu merawat mesin mobilnya dengan hati (sukacita), – meskipun mobil itu bukan miliknya.
Contoh-contoh tersebut di atas agaknya sejalan dan sejiwa dengan pemikiran Philip Green, pengusaha retail, milyuner dari Inggris: “Anda harus mencintai apa yang Anda lakukan untuk membuat sesuatu benar-benar terwujud“.

Anda termasuk kelompok mana?

Menurut prof Komaruddin Hidayat selanjutnya, … dalam lingkungan kantor atau perusahaan selalu ditemukan empat kategori karyawan.

  • Pertama, yang paling ideal adalah mereka yang memiliki skill dan semangat kerja tinggi. Dalam diri mereka bertemu keahlian, loyalitas dan semangat berprestasi. Semakin besar kelompok ini akan semakin maju sebuah konstitusi. Pimpinannya mesti sering memberikan apresiasi.
  • Kedua, kelompok karyawan atau pegawai yang meskipun memiliki skill tinggi, namun motivasi kerjanya rendah. Terhadap mereka mesti dipelajari dan diajak bicara dari hati ke hati untuk menemukan masalahnya dan menumbuhkan motivasi kerjanya – dengan kata lain konseling.
  • Ketiga, lelompok pegawai yang semangat kerjanya tinggi meskipun skill mereka rendah. Cara termudah mengatasinya adalah dengan memberi pelatihan untuk meningkatkan keahliannya.
  • Keempat, kelompok yang membuat perusahaan dan / atau negara rugi yaitu kelompok yang memiliki skill dan motivasi kerjanya rendah.
    Jika kelompok ini diberhentikan atau dipensiun dini, dinilainya merupakan keputusan yang logis.

Semoga Anda bukan termasuk kelompok keempat ini, sehingga harus mengalami PHK atau Pensiun Dini.
Berbahgialah Anda yang berbisnis online, karena Anda tidak punya boss yang menilai, mengawasi dan mengendalikan Anda. Anda sendirilah boss Anda. Meskipun demikian, bukannya Anda tidak perlu skill, semangat dan motivasi kerja yang tinggi. Karena skill, semangat tinggi dan motivasi tinggi lah yang membuat Anda sukses.
Jika Anda merasa skill Anda belum memadai, … berlatihlah. Dengan berlatih, seorang atlet menjadi juara, bukan karena dilahirkan sebagai juara, juga bukan karena bakat, melainkan karena berlatih dengan sukacita dan cinta.

No Comments

Leave a Reply

Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>