MENGGALI ILMU MENDULANG UANG


Bersikap Proaktif Untuk Siapa

Motivasi

Berkenaan dengan Iedul Fitri 1434H saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan “Selamat Iedul Fitri – 1 Syawal 1434H”, kepada semua handai tolan, sanak saudara dan para pembaca blog Lehmann, yang selama ini setia mengikutinya. Minal Aidin Walfaizin, mohon maaf lahir dan bathin.

Bersikap Proaktif

ProaktifAnda mungkin pernah mendengar, pejabat atau tokoh masyarakat yang mengatakan bekerja secara proaktif diperlukan lembaga, perusahaan atau organisasi untuk mencapai tujuannya dengan sukses.
Mungkin timbul pertanyaan di antara Anda: “Sebetulnya, untuk siapa, dari siapa dan oleh siapa sikap proaktif itu diperlukan? Untuk lembaga, perusahaan, organisasi ataukah dari, oleh dan untuk pribadi pekerja yang bersangkutan?
Himbauan seperti itu, mengisyaratkan seolah-olah sikap proaktif saat bekerja (di suatu lembaga, perusahaan atau organisasi) hanya diperlukan oleh lembaga di mana kita bekerja.

Apa dan bagaimana yang dimaksud dengan proaktif

Sebelum kita menjawab pertanyaan di atas. Ada baiknya kita tinjau lebih dulu apa itu proaktif dan bagaimana sebaiknya kita bisa bersikap proaktif.
Menurut pemahaman (pribadi saya selama ini), bersikap proaktif itu mengandung berbagai sikap yang positif dalam hal menghadapi situasi, baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari, seperti antara lain:

  • Inisiatif (dalam arti tidak pasif menunggu perintah), untuk menyelesaikan pekerjaan atau masalah;
  • Kreatif (dalam arti mampu menciptakan cara kerja, metode baru atau mekanisme kerja baru, dsb,), dalam hal menghadapi permasalahan, pekerjaan atau situasi keseharian;
  • Aktif (senantiasa  sibuk mencari jalan atau cara untuk mempermudah penyelesaian pekerjaan atau masalah), dalam arti tidak hanya reaktif menunggu adanya pekerjaan atau masalah;
  • Responsif (bertindak atau berbuat sesuatu yang positif), terhadap pertanyaan dan permohonan pelanggan maupun masyarakat, perintah atasan atau atas timbulnya masalah yang dihadapi mereka;
  • Koordinatif (dalam arti tidak bekerja sendiri-sendiri), melainkan bekerja sejalan bersama dalam upaya mencapai tujuan bersama;
  • Kooperatif (saling menunjang dengan upaya memberikan bantuan kepada unit lainnya, di mana perlu), dengan maksud tercapainya tujuan bersama;
  • Produktif (dengan waktu, dana dan peralatan yang tersedia), mampu menciptakan hasil optimal.

Dengan bersikap seperti itu, di samping disiplin dan loyalitas, yakinlah bahwa Anda akan mendapat apresiasi (penghargaan) lebih daripada biasanya dari pihak lain (atasan, rekan sekerja, pelanggan atau masyarakat yang Anda layani).
Jadi, dapat kita simpulkan untuk menjawab pertanyaan di atas, bahwa “Anda”-lah sebetulnya yang memerlukan sikap proaktif dan mengalirkan manfaat (benefit) kepada masyarakat melalui hasil (outcome) kinerja Anda. Selanjutnya, perusahaan, lembaga atau organisasi (di mana Anda bekerja) mendapat keuntungan (advantage) berupa penghargaan dan penilaian positif dari masyarakat yang mendapat manfaat tersebut (barang atau jasanya lebih laku dan perusahannya lebih dikenal, dsb.).
Pada gilirannya, Anda pun mendapat penghargaan dan penilaian positif (perbaikan penghasilan, promisi jabatan dsb.) dari perusahaan, khususnya dari atasan Anda, dan dari masyarakat dan pelanggan Anda pada umumnya.
Siapa pun agaknya ingin mendapat penilaian positif seperti itu.

Sikap Proaktif dan Usahawan Mandiri

Setiap usahawan mandiri, baik offline maupun online yang ingin sukses dan yang sudah sukses sekalipun, dituntut untuk senantiasa bersikap proaktif seperti sikap yang diuraikan di atas. Initiatif, kreatif, aktif dan produktif agar usahanya selalu berada “di atas angin” dalam kancah persaingan yang ketat. Ia juga harus selalu koordinatif dan kooperatif dengan rekan usahanya, apalagi dengan aparat pemasarannya, seperti distributor, agen, affiliasi dan lain-lainnya.
Maka semakin jelaslah, bahwa sikap proaktif tidak hanya diperlukan oleh suatu lembaga, perusahaan atau organisasi belaka, melainkan juga diperlukan oleh Anda sendiri selaku individu, untuk mencapai sukses. Apalagi jika Anda adalah seorang usahawan mandiri.

Semoga artikel ini dapat memberikan inspirasi bagi Anda dalam mengisi waktu liburan Iedul Fitri. SELAMAT BEKERJA KEMBALI SETELAH LIBURAN IEDUL FITRI.

1 Comment

1 Comment

  1. zulfan abidan.m.khNo Gravatar  •  Aug 21, 2013 @10:07

    Pencerahan yang bagus Pak Eman, kalau dalam urusan sepak menyepak dikenal dengan istilah ” jemput bola ” , jadi pemain harus selalu move on, dan sudah jelas 7 jurus/point diatas harus dimiliki, yang jadi masalah hampir sebagian besar dari Kita terutama yang bekerja disektor Pemerintah tak punya 7 jurus tersebut, atau kalau mereka punya tetapi terganjal oleh atasan yang memang gemarnya ” copas ” dari yang lalu, dan semua ini menurut saya harus diawali dengan berani melakukan sesuatu yang baru, CHANGE !!! sedang bagi mereka yang jadi boss bagi diri sendiri, no problemo, tetapi tetap harus punya nyali untuk berubah mengikuti gerak laju perkembangan/trend.
    Sekali lagi terima kasih Pak Eman, mudah2an akan ada lagi tulisan-tulisan yang dapat menambah wawasan dan wacana berpikir kedepan .

Leave a Reply

Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>